Pemikiran Abu Hasan Al-Asy'ari tentang Ahlu Sunnah wal Jamaah oleh Sayyid Muhammad Yusuf Aidid (Dosen Agama Islam Universitas Indonesia dan PNJ)


Ahlu Sunnah wal Jamaah ialah sekumpulan orang yang menganut i’tiqad Nabi Muhammad Saw, sahabat-sahabat beliau. Yang mana dahulu I’tiqad nabi Muhammad dan sahabat-sahabat beliau itu telah termaktub di dalam al-Quran dan Sunnah Rasul secara terpisah-pisah belum tersusun secara rapih separti sekarang.[1] Di abad ini Ahlusunnah wal Jamaah dinisbatkan kepada Abu Hasan al-Asy’ari. Karena beliau ingin menciptakan kembali sisi intelektual muslim mulai dari al-Quran dan as-Sunnah agar pemikiran manusia tidak melenceng dari sisi keberagaman secara holistik.
            Penisbatan ini bukan Abu Hasan al-Asy’ari ingin mendapatkan tempat di hati masyarakat  akan tetapi paham al-Asy’ari begitu proporsional apabila dijalankan di sepanjang masa. Banyak komentar yang bermunculan tentang diri Abu Hasan Al-Asy’ari. As-Subki berkata “Ketahuilah bahwa Abu Hasan al-Asy’ari tidaklah sebuah pendapat atau paham baru. Akan tetapi, ia mengukuhkan kembali paham salaf, berjuang untuk mempertahankan ajaran yang pernah diamalkan oleh para sahabat Rasulullah saw. Penisbatan paham akidah Ahlu Sunnah wal Jamaah kepadanya itu hanya dilihat dari usahanya dalam merumuskan manhaj yang sesuai dengan ajaran salaf. [2]
            Ajaran al-Asy’ari banyak menuntun umat manusia dengan kembali kepada khittah kepada jalan rasul yaitu menggabunggkan universitalitas dimensi ruh dan jasad untuk tetap menjaga eksistensi diri kepada Allah, lingkungan, dan keadaan sekitar. Adapun realitas ini muncul ke dalam tiga pokok ajaran Asariyah yang dikatakan KH. Hasyim Asy’ari yaitu pertama ajaran ketauhidan atau keimanan sebagai dasar yang paling asasi dan pangkal tolak segala tingkah perbuatan ditunjukkan kepada paham Asy’ari. Kedua, paham fiqh atau syariat Islam sebagai landasan normati bagi segala amal- ibadah yang berhubungan secara vertical (Tuhan) dan horizontal (sesama manusia yang mengikuti paham yang bermadzhab yang dirujukkan keada imam empat : Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Hanafi). Paham Tasawuf sebagai landasan sikap mental babagi segala amal perbuatan dirujukkan kepada Abu Qasim al-Baghdadi, dan etikanya kepada Imam al-Ghazali.[3]
            al-Asy’ari memandang Islam itu begitu mudah dan bisa diterima baik bagi akal dan hati. Melalui hasil pemikirannya, ia mengkonsepsi sifat Islam sunni yang mudah diterima antara lain :[4]
            Agama Islam itu praktis. Praktis dalam arti kata bahwa tidak ada satupun ayat al-Quran yang bersifat teoritis semata, tetapi ayat-ayat tersebut juga berisi petunjuk dan ajaran yang bisa dilaksanakan dan dipraktekkan di dalam kehidupan sehari-hari.
            Islam itu rasional. Rasional bahwa ada tiga pokok akidah Islamiyah yang harus berdasarkan : akal pikiran yang sehat, yaitu keesaan Allah, kerasulan Nabi Muhammad dan konsep hidup sesudah mati.
            Islam itu mudah artinya dalam agama Islam itu tidak ada peraturan dan peribadatan yang sulit dan rumit. Sehingga umat islam bisa melakukan peribatan dan peraturan tersebut.
            Melalui konsep tersebut penulis ingin menyimpulkan bahwasannya Islam bukan distorsi bagi diri bagi yang ingin menganutnya. Karena distorsi tersebut timbul dari gejala kontradiksi manusianya tersendiri yang menerjemahkan Islam itu secara hiperbolik. Lantas sunni melalui Imam al-Asy’ari menuangkan konsepsi sifat islam yang begitu mudah dan praktis untuk dijalani bagi umat Islam.
            Dari konsepsi yang telah dirumuskan oleh Abu Hasan al-Asy’ari maka beliau menyusun pemikiran-pemikran secara aktualitatif dan aplikatif untuk menunjukkan bahwa sunni itu mempunyai pendirian melalui manhaj yang shahih. Pemikiran-pemikiran tersebut berupa sifat-sifat Tuhan, Al-Quran yang qadim,  Perbuatan Manusia, keadilan Tuhan.
            Al-Asy’ari berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat. Allah mengetahui dengan I’lmu, berkuasa dengan sifat qudrah, hidup dengan hayah, berkehendak dengan iradah, berkata dengan kalam, mendngar dengan sama’, melihat dengan basher, dan seterusnya. Sifat-sifat tersebut adalah azali dan qadim yang berdiri diatas dzat Tuhan. Sifat-sifat tersebut bukanlah dzat Tuhan, bukan pula lain dari dzat-Nya.[5] Sifat tersebut menunjukkan penyatuan dengan eksistensinya menunjukkan kebesaran zatnya. Sehingga manusia bisa menjadi hamba-Nya yang berjiwa ihsan dalam melihat sifat-sifat-Nya.
Al-Asyari juga berpendapat bahwa al-Quran bersifat qadim, tidak diciptakan. Menurutnya dalam setiap penciptaan sesuatu diperlukan kata kun (jadilah). Jika kata kun diciptakan, tentu untuk menciptakan kata kun diperlukan kun yang lain.[6] Melalui pendapatnya bahwa Al-Quran bukanlah makhluk. Artinya al-Quran bukan makhluk sebagaimana pendapat kaum mu’tazilah. Jika orang mengatakan bahwasannya al-Quran adalah makluk berarti mereka mennyamakan Tuhan dengan patung yang tidak bisa bertutur kata.
 Prinsip  aliran Asy-ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mengujudkan. Allah menciptakan perbuatan manusia dan menciptakan pula pada diri manusia daya untuk melahirkan perbuatan tersebut. Jadi, perbuatan di sini adalah ciptaan Allah dan merupakan kasb bagi manusia.[7] Dari prinsipnya tersebut mengandung makna bahwa perbuatan manusia harus dikendalikan dengan manusia itu sendiri. Apabila manusia bisa mengendalikan dirinya maka dirinya akan mencerminkan perbuatan dirinya bersesuaian dengan ketetapan Allah.
            Pemikiran keadilan Tuhan menurut Al-Asy’ari adalah tidak ada satupun yang wajib bagi Tuhan, Tuhan adalah berkuasa mutlak. Andaikata Tuhan memasukkan seluruh manusia ke dalam surga, hal ini bukan berarti Dia tidak adil. Sebaliknya andaikata Tuhan memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka maka Tuhan tidak dikatakan besifat zalim. Dengan pemikiran tersebut maka bisa diambil satu penilaian bahwa Tuhan melihat baik dan buruknya manusia. Artinya apabila manusia berbuat baik maka ia akan ditempatkan yang sesuai dengan kebaikannya. Dan apabila manusia berbuat buruk maka akan ditempatkan di tempat yang buruk pula.

Gambar Diambil dari: jateng.nu.or.id



[1] Achmad Qomary, Ahlus Sunnah Wal- Jamaah Beserta Konsepsinya, Jakarta: Wangsamerta, 2003, hlm 7
[2] Ali Jum’ah, Menjawab Dakwah Kaum Salafi, Jakarta : Khatulistiwa Press, 2013, hlm 31
[3] Rohinah M. Noor, KH Hasyim Asy’ari Memodernisasi NU & Pendidikan Islam, Jakarta : 2010, hlm 36
[4] Op.cit, hal 51
[5] Amin, Nurdin. Sejarah Pemikiran Islam, Jakarta : Amzah, 2012, hlm 104
[6] Op.cit, hlm 105



Posting Komentar

0 Komentar