Dzulhijjah di Mata Sufi oleh Sayyid Muhammad Yusuf Aidid, S.Pd, M.Si (Dosen Agama Islam Universitas Indonesia dan PNJ)


Dzulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan haram. Pada bulan tersebut dilarang melakukan sesuatu maksiat dan berperang. Di sisi lain, sebagian muslimin menunaikan rukun Islam yang kelima, haji. Adapun penulis menulis artikel ini karena ingin mengungkap rahasia-rahasia hari yang ada di bulan Dzulhijjah. Umumnya, ulama menuturkan keistimewaan hari kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh di bulan itu.
            Hari kedelapan pada bulan Dzulhijjah disebut juga dengan Tarwiyah. Imam Ghazali menuturkan, “Jika ada orang yang berpuasa pada hari tarwiyah maka ia mendapatkan ganjaran seribu ekor kambing dan seribu ekor kuda yang ia tunggangi untuk berjuang di jalan Allah (Imam Ghazali:500H:309).” Hal tersebut beliau intisarikan dari hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, Dahulu ada seorang pemuda yang selalu menyimak penuturan Nabi Muhammad , sehingga jika datang bulan Dzulhijjah ia berpuasa. Maka, kabar ini sampai pada Rasulullah dan beliau memanggil dan bertanya kepada pemuda tersebut, “Apa yang memotivasimu untuk berpuasa pada hari-hari di bulan Dzulhijjah?” Pemuda itu berkata, “Demi kedua orangtuamu dan ibuku Wahai Rasulullah sesungguhnya hari-hari tersebut adalah hari-hari yang makmur. Pada hari-hari haji itu, doa-doa mereka (kedua orangtuamu dan ibuku) kepada Allah menyertaiku. Sehingga Rasul bersabda, “Dan sungguh engkau berpuasa pada hari tersebut maka engkau mendapatkan pahala seperti membebaskan seratus budak,  dan mendapatkan seratus kambing dan kuda untuk berjuang di jalan Allah.”
            Melalui pernyataan hadis Nabi Muhammad yang disimpulkan oleh Imam Ghazali, maka umat Islam berpuasa sunnah di hari tarwiyah. Namun umat muslim bukan hanya berpuasa pada hari tarwiyah saja akan tetapi berpuasa pula pada hari arafah (hari kesembilan Dzulhijjah). Sebagaimana Hadis Nabi Muhammad Saw, “Jika pada hari Arafah Allah menebarkan rahmat-Nya, maka bukankah pada hari tersebut banyak budak yang terbebaskan, dan barangsiapa yang memohon kepada Allah atas hajat dari hajat-hajat dunia dan akhirat maka Ia akan memenuhi untuk hamba-Nya. Puasa Arafah juga menghapuskan dosa-dosa setahun lalu dan dosa-dosa setahun di masa mendatang.
Syekh Abdul Qadir al-Jilani berkata bahwa hari kesepuluh pada bulan Dzulhijjah dimuliakan oleh Allah dengan sepuluh kemuliaan. Kemuliaan tersebut diantaranya, keberkahan pada umur seseorang, bertambah rezekinya, terjaga keluarganya, terhapus kejelekannya, bertambah kebaikannya, mudah dalam sakaratul mautnya,  ringan dalam hisabnya, keberhasilan dalam tingkat spiritualitasnya, dan naik derajatnya disisi Allah (Abdul Qadir Al-Jilani: 561H: 27)
            Ungkapan Syekh Abdul Qadir al-Jilani perlu diaplikasikan oleh umat muslim pada moment sepuluh Dzulhijjah. Adapun cara mengaplikasikannya dengan menambah giat ibadah wajib dan sunnah, memperbanyak dzikir, menyisihkan uang untuk disedekahkan, menyembelih hewan kurban, selalu mengingatkan keluarga tentang pentingnya ibadah, dan melakukan kebaikan-kebaikan baik sesama muslim dan umat di luar muslim pada hari tersebut.
            Selain itu Syekh Abdul Qadir al-Jilani didalam ceramahnya pernah mengutip perkataan Ibn Abbas bahwa pada hari kesepuluh Dzulhijjah ada kemulian-kemulian para nabi. Kemulian-kemulian tersebut diantaranya Allah menerima taubat Nabi Adam as, kala itu nabi Adam bertaubat kepada Allah di padang Arafah dan mengakui dosa-dosanya. Di sisi lain pada hari tersebut, Nabi Ibrahim ditetapkan sebagai kekasih-Nya, ia membelanjakan hartanya untuk menghidangkan hidangkan tamu-tamunya, ia diselamatkan Allah dari api yang panas,  dan ia mengikhlaskan anaknya untuk dijadikan kurban, serta pada hari itu nabi Ibrahim membangun Ka’bah.
            Pandangan Imam Ghazali dan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, kedua tokoh sufi dunia, tentang rahasia-rahasia hari kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh Dzulhijjah merupakan pemicu bagi umat muslim untuk meningkatkan ibadah. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa setiap bulan hijriah mempunyai kandungan-kandungan tersendiri. Sehingga peningkatan ibadah dan muraqabah bukan hanya dikhususkan pada hari-hari dan bulan-bulan tertentu saja akan tetapi harus dilakukan pada setiap waktu yang kita jalani.
           




Posting Komentar

0 Komentar