Pentingnya Kedudukan Seorang A’lim dalam Kehidupan Manusia oleh Sayyid Muhammad Yusuf Aidid, S.Pd, M.Si (Dosen Agama Islam Universitas Indonesia dan PNJ)


              Ilmu sangat penting sebagai pembentuk kecerdasan manusia. Tanpanya manusia akan menyianyiakan potensi akal yang diberikan Allah Swt. untuk berfikir. Sebagaimana Rasullah Saw bersabda, “Sebaik-baiknya dunia dan akhirat itu bersama Ilmu, dan seburuk-buruknya dunia dan akhirat yaitu bersama kebodohan.” Melalui hadis tersebut maka bisa dipastikan seseorang yang mempunyai ilmu akan selamat dan tidak mudah dibodohi.

              Sayyidina Ali R.A berkata, “Seminimal mungkin seorang manusia ada nilainya melalui ilmu pada akal mereka.” Namun ilmu apa saja yang kita bisa peroleh agar mempunyai manfaat? Sebagian para salafuna solih mengatakan bahwa ilmu itu ada empat: ilmu fikih untuk mengetahui agama, ilmu kedokteran untuk kesehatan badan, ilmu astronomi untuk mengetahui waktu atau massa, dan ilmu gramatika (bahasa) untuk memperbaiki tutur kata. (Syekh Abu al-Fath Abshihi: 2015: 25)

              Selain ilmu-ilmu diatas yang dibutuhkan, namun syekh atau seorang yang a’lim sangat penting sebagai petunjuk dalam kebenaran ilmu tersebut.  Jika kita belajar tanpa guru maka kita akan tersesat. Sebagaimana Nabi Muhammad bersabda, “Belajarlah (kalian) ilmu, dan ambilah dari ahlinya (seorang a’lim).” Hadis tersebut menunjukan bahwa kedudukan seorang a’lim itu penting dalam mengambil keilmuan.

              Sehingga ada pernyataan yang salah jika, “Langsung aja belajar dari sumber aslinya yaitu al-Quran dan hadis.” Apakah kita melihat rasulullah sebagai tokoh yang memahami dua supermasi hukum tersebut? apakah kita melihat sahabat-sahabat nabi sebagai murid langsung rasulullah bahkan meriwayatkan hadis-hadisnya? Apakah kita melihat tabi’in dan tabiut tabi’in sebagai tongkat estafet dalam memahami ilmu-ilmu agama?

          Imam Hasan al-Bashri menyatakan bahwa, “Kalau bukan karena ulama maka manusia seluruhnya seperti binatang, kalau bukan karena orang-orang solih maka akan rusaklah orang-orang yang salah arah.” Pernyataan tersebut memperkuat bahwa seorang a’lim selain memberikan ilmu namun mereka bisa sebagai obat bagi orang-orang yang punya penyakit hubbu dunia (cinta akan dunia). Syekh Abu al-Fath Abshihi berkata, “Seorang a’lim itu bagai obat bagi umat dan dunia serta penyembuh bagi penyakit-penyakit keduniaan (cinta dunia), kemudian apabila seorang dokter bisa mendeteksi penyakit maka kapanpun ia bisa menyembuhkan penyakit tersebut.”

Di sisi lain, seorang a’lim itu dicintai oleh Allah Ta’ala, sebab posisinya menyampaikan yang hak untuk membimbing dan meluruskan umat. Nabi Musa pernah bermunajat dan bertanya pada Allah, “Wahai Tuhanku, Manusia siapa yang paling engkau cintai?” Allah menjawab, “Seorang a’lim yang selalu mempelajari ilmu.” Untuk itu seorang a’lim bisa memberikan syafaat di hari kiamat baik kepada para muta’alim (pembelajar) maupun para muhibbin (pecinta)nya. Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda, “Ada tiga orang yang memberikan Syafaat (pertolongan) di hari kiamat: para nabi, para ulama, kemudian para syuhada.”

 




Posting Komentar

0 Komentar