Pentingnya Khusnuzon dalam Bermuamalah disusun oleh Sayyid Muhammad Yusuf Aidid, S.Pd, M.Si (Dosen Agama Islam Universitas Indonesia dan PNJ)

 

              Setiap hari  manusia melakukan ibadah ghairu mahdah. Ibadah ghairu mahdah juga disebut dengan muamalah, interaksi antara manusia dengan manusia lainnya. Tentu dalam ibadah tersebut terkadang manusia susah-susah gampang dalam melakukannya. Sebab ada kalanya ada rasa curiga, rasa orang lain akan menikam dari belakang, dan


ada rasa ragu terhadap orang lain. Tentu hal-hal negatif tersebut datang dari was-was. Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata, “Sungguh was-was itu datangnya dari sesuatu yang menyepelekan sunnah.”

            Tentu jika seorang muslim selalu melengkapi ibadahnya dengan sunnah-sunnah yang telah dijalani rasulullah maka akan berimplikasi pada khusnuzzon atau prasangka baik. Baik khusnuzzan terhadap ketentuan Allah Swt atau khusnuzzan terhadap sesama manusia. Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Ada dua perkara yang tidak ada di atas keduanya tersebut dari kebaikan yaitu khusnuzzon kepada Allah, dan khusnuzzon terhadap hamba-hamba-Nya. Ada dua perkara pula yang tidak ada di atas keduanya tersebut dari keburukan yaitu suudzon kepada Allah Swt, dan suudzon kepada kepada hamba-hamba-Nya.”

            Tujuan khunuzzan kepada umat muslim itu adalah engkau tidak berprasangka buruk atas segala sesuatu kepada perkataan mereka dan juga perbuatan mereka dan perkataan mereka, untuk engkau mendapatkan hal tersebut yaitu melalui amal-amal khair. Jika kamu belum meraih khusnuzzan tersebut maka kamu masih mengerjakan maksiat maka tinggalkanlah hal tersebut. (Imam Haddad:2010:124)

            Adapun sasaran suudzon kepada  muslim lainnya yaitu adalah kamu berprasangkan buruk terhadap perkataan mereka dan perbuatan mereka, baik zohir maupun bathin. Maka dari itu untuk menghilangkan hal-hal tersebut yaitu dengan memperhatikan kehidupan muslim lainnya, memperbanyak shalat sunnah, sodakoh, dan membaca al-quran. (Imam Haddad:2010:124)

            Imam Haddad berkata, “Pada suudzon tersebut biasanya ia tidak mempunyai simpati atau kepekaan terhadap kehidupan orang lain dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan harta dan kedudukan." Hal tersebut merupakan prasangka yang rusak dan ia tidak menghasilkan sesuatu kecuali bathin yang buruk dan ia ada pada akhlak orang-orang munafik. (Imam Haddad:2010:124)

 




Posting Komentar

0 Komentar