Waktu itu Sangat Mahal oleh Sayyid Muhammad Yusuf, S.Pd, M.Si, CETP (Dosen Agama Islam Universitas Indonesia dan PNJ)


Hari yang manusia jalani yaitu selalu berkaitan dengan waktu. Mulai dari bangun tidur, proses melakukan aktivitas, dan ditutup dengan tidur. Tentu waktu-waktu yang dilewatinya harus istimewa dan berharga. Jika tidak demikian waktu akan memakan umur kita dengan sia-sia. Pemanfaatan waktu Rasulullah sangatlah luar biasa. Sebab beliau menggunakan waktu secara efektif dan efisien. Mulai dari sebelum tidurnya diisi dengan kalimat-kalimat Allah, waktu sepertiga malamnya bangun untuk Allah, proses aktivitas pagi hingga siangnya  tiada terlewat kecuali bersama Allah.

            Tentu aktivitas-aktivitas yang Rasulullah lakukan dalam mengisi waktu diikuti oleh para sahabat-sahabat, kemudian diikuti para tabiin, tabiut tabiin, dan ulama'il amilin. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud berkata, “Tidaklah aku menyesal atas sesuatu kecuali penyesalanku terhadap hari yang menenggelamkan matahari (waktu sore), singkat sekali waktu yang ku jalani, akan tetapi sedikit sekali amalku padanya.”

            Penuturan Abdullah bin Mas’ud di atas memberikan satu pendangan kepada diri kita bahwa waktu yang telah terlewat tidak akan kembali lagi. Sehingga kita akan menyesal dengan waktu yang terlewat disebabkan amal shalih yang dilakukan hanya sedikit. Maka secara tak sadar seseorang telah tumbuh uban di rambutnya dengan kebiasaan yang biasa-biasa saja, sedikit amal shalih dan terjebak dengan amal buruk.

            Sayyidina Umar bin Abdul Aziz Ra berkata, “Sesungguhnya malam dan siang itu datang untuk mu, maka lakukanlah amal-amal shalih di waktu-waktu tersebut.”

            Imam Hasan al-Bashri berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” Beliau tambahkan kembali, “Aku mendapati kaum-kaum yang mereka memanfaatkan waktu mereka dengan ketamakan dalam mengumpulkan dirham-dirham dan dinar-dinar.”

            Pernyataan Imam Hasan al-Bashri di atas bisa disimpulkan bahwa waktu itu lebih berharga dari berlian. Untuk itu memanfaatkan waktu bukan hanya untuk mempupuk kekayaan di dunia  saja akan tetapi memanfaatkannya dengan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah. Sungguh merugi jika manusia mengumpulkan harta akan tetapi dengan hartanya ia akan tamak dan lupa akan sesuatu yang harus dikeluarkan melalui zakat. Ingatkah kisah Qarun yang sebelum ia menjadi seorang yang kaya raya, ia menunaikan ibadah kepada Allah. Akan tetapi ketika ia menggapai kekayaan dunia ia melupakan Tuhan-nya.

 

 

 

 




Posting Komentar

0 Komentar