Selalu Ada Cerita pada Malam 23 Ramadhan di Condet Oleh Sayyid Muhammad Yusuf Aidid, S.Pd, M.Si, CETP (Dosen Agama Islam Universitas Indonesia dan PNJ)

 

        Selalu ada cerita di Condet, Jakarta Timur  satu wilayah yang mempunyai ciri-khas tersendiri. Mulai dari salak Condet, toko parfum, sebagian penduduk keturunan Arab, toko HP, kemacetan hingga kulineran. Bagi sebagian orang menganggap bahwa wilayah tersebut adalah wilayah yang asyik untuk ditempati. Sebab semuanya sudah tersedia, sehingga harga tanahpun ikut melonjak naik. Lantas bohir-bohir  berbondong-bondong membeli tanah di daerah tersebut dan membuat home state untuk dijual atau dikontrakan. 

       Ada seseorang yang pernah bertanya kepada saya apa arti Condet? Saya menjawab, saya tidak tahu. Seseorang yang bertanya tadi menjawab bahwa Condet itu artinya Country Death, kota mati. Saya tercengang dengan jawaban itu. Engga gini, Suf, wilayah tersebut sama artinya dengan Hadramaut, yaitu kota mengingat kematian. Hal itu berdasarpula dengan adanya satu masjid yang berhubungan dengan kota Hadramaut yaitu Masjid Al-Hawi. 

        Penyebaran agama Islam di Condet yaitu dilakukan oleh Habib Muchsin bin Muhammad Alatas. Beliau seorang ahli fiqih, hadis, dan tasawuf yang datang ke kota Batavia pada abad ke 19. Pertama kali, beliau datang ke Batavia memang singgah di daerah Pekojan. Sebab Pekojan, adalah distrik yang sengaja dibuat oleh VOC sebagai distriknya orang-orang imigran asal Arab. 

        Uniknya Habib Muchsin bin Muhammad Alatas memilih Condet ketimbang tempat lain untuk menyebarkan agama Islam. Sifat kedermawanannya membuat dirinya dikenal sebagai tokoh yang mujabu da'wah, yaitu apabila ia mengangkat kedua tangannya, maka doanya diijabah. Bahkan kerap kali ketika ia sepulang dakwah selalu membagi-bagikan uang kepada orang-orang di jalan, sehingga ia ketika sesampai di rumahnya duitnya habis. Dari situlah, ia banyak diziarahi oleh orang-orang dari berbagai daerah untuk meminta doa kepadanya. 

        Di sisi lain, ciri khas Condet yaitu Masjid Al-Hawi. Masjid yang didirikan oleh Habib Muhammad bin Ahmad Al-Haddad yaitu mantu dari Habib Muchsin bin Muhammad Alatas. Awalnya Habib Muhammad tinggal di Rawajati, Pasar Minggu. Karena kealimannya, ia diberikan tanah wakaf di daerah Kramat Jati dan kemudian dijadikannya tanah wakaf tersebut Masjid Al-Hawi. Mengapa dinamakan masjid tersebut dengan Al-Hawi? Sebab Habib Muhammad ingin bertabaruk dengan kota asal Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Sahiburratib al-Haddad. 

        Jangan heran ketika kita masuk ke daerah Condet, dari awal masuk hingga ujungnya terdapat toko minyak wangi. Hal itu mempunyai filosofi tersendiri, ada yang mengatakan bahwa Habib Muchsin Alatas dan Habib Muhammad Al-Haddad adalah dua tokoh yang selalu tidak lupa membawa minyak wangi. Sebagaimana Rasulullah di dalam keseharian tidak lupa untuk membawa minyak wangi di sakunya. Di sisi lain selain toko minyak wangi terdapat pula toko perlengkapan shalat yang menjual baju koko, gamis, abaya, kain dan siwak. 

        Pada malam 23 Ramadhan, dari tahun ke tahun, Masjid al-Hawi selalu menjadi event untuk ifthar jama'i dan khatmul quran di dalam shalat terawih. Berbondong-bondong orang-orang dari daerah JABODETABEK memenuhi kawasan tersebut. Bisa dibilang malam tersebut seperti keadaan umrah di Mekkah. Orang-orang niat menghadiri acara tersebut bermacam-macam, ada yang ingin melihat para ulama, ada yang yakin bahwa doa di tengah-tengah ulama diijabah, ada yang ingin sehabis terawih belanja, dan ada yang  ingin mengisi waktu Ramadhan dengan menghadirinya. 




Posting Komentar

0 Komentar