Dalam talqin ketika menguburkan jenazah selalu terdengar “al-jannah haq, wa al-naar haq, wa al-hayatu haq, wa al-mamat haqq” (syurga itu adalah seuatu kebenaran, neraka itu suatu kebenaran, kehidupan itu suatu kebenaran, dan matipun suatu kebenaran). Melalui kalimat-kalimat tersebut bahwa tersirat keimanan kepada hari akhir serta qadha dan qadar. Selain itu setiap umat muslim mengingkan masuk ke dalam syurga Allah Swt. Tentu surga ini lebih mahal ketimbang dengan harta yang dikumpulkan di dunia.
Adapun amal-amal
manusia di dunia menentukan nasib kita di akhirat. Apakah kita masuk syurga-Nya
atau tergelincir ke dalam jurang neraka-Nya. Sebagaimana hal tersebut Allah
berfirman:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا
لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
"Segala puji bagi Allah yang
telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan
mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah
datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran". Dan diserukan kepada
mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu
kamu kerjakan". (QS Al-A’raf:43)
Melalui
ayat di atas maka sebagai umat muslim harus mengerjakan amal-amal baik di dunia
sebagai wasilah untuk mendapatkan syurga yang telah dijanjikan Allah Swt. Memang
untuk mengerjakan amal-amal shalih yang telah ditentukan oleh syariat cukup
berat namun jika telah biasa dilakukan akan menjadi ringan dan medarah daging;
seperti shalat lima waktu, shalat sunnah, dzikrullah, membaca al-quran,
mengikuti kajian-kajian keagamaan, bersedekah dan amal-amal lainnya. Sebab
Rasulullah telah bersabda, “Seseorang dari kalian tidak akan masuk syurga
kecuali dengan amalnya.”
Di
sisi Rasulullah pernah menunjukkan kepada Muadz bin Jabal untuk melakukan
amal-amal sunnah setelah konsisten dalam menjalankan ibadah-ibadah fardhu,
serta cinta kepada
Allah melalui pribadi Rasulullah. Sebagaimana di dalam hadis qudsi,
وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه
، و لا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه ، فإذا أحببته كنت سمعه الذي سمع به
و بصره الذي يبصر به ، و يده التي يبطش بها و رجله التي يمشي بها و لئن سألني
لأعطينه
“Hamba-Ku
senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (perbuatan)
yang Aku sukai seperti bila ia melakukan yang fardhu yang Aku perintahkan
kepadanya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan
amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka
jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, sebagai
penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang ia gunakan
untuk memegang, sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon
sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan,
pasti akan Aku berikan kepadanya.”
0 Komentar