Wara’, Pengikat Kesadaran Spiritual disusun oleh Sayyid Muhammad Yusuf Aidid, S.Pd, M.Si, CETP (Dosen Agama Islam Universitas Indonesia)

 

              Manusia, mahluk yang Allah titipkan amanah berupa akal dan hati. Melalui amanah tersebut, ia harus mempunyai kesadaran bertutur, bertindak, dan bersosialisasi. Tentu kesadaran-kesadaran tersebut dibangun melalui agama. Sebab tanpa agama kesadaran-kesadaran tersebut, ia akan melakukan sesuatu di luar kontrol atau kendali. Bingkai agama yang terpatri dalam diri seseorang akan berimplikasi pada sikap kehati-hatian atau dalam bahasa agama itu wara’.

              Wara’, selama ini yang kita kenal yaitu sebatas kehati-hatian dalam pemilihan makanan; baik itu halal, haram, atau syubhat. Ketika manusia sudah memahami kehalanan yang akan dikonsumsi maka akan berdampak positif bagi dirinya. Imam Abdullah al-Haddad berkata, “Ketahuilah oleh kalian bahwa memakan makananan yang halal berimplikasi bagi terangnya hati dan melembutkannya. Selain itu hatinya terikat ketaqwaan pada sang ilahi serta mempunyai sikap kesadaran untuk mengagungkan-Nya. Di sisi lain anggota badannya akan semangat beribadah, taat kepada-Nya, menyedikitkan hal duniawiyah dan menginginkan akhirat." Sebagaimana hadis nabi Muhammad, “Perbaikilah makananmu maka doamu akan terijabah.” (Imam Haddad:2013:303)

              Sebalikya Imam Haddad juga berkata, “Adapun memakan makanan yang haram dan syubhat maka penikmatnya akan berlawanan dari kebaikan-kebaikan seperti hati yang keras dan zalim, anggota badan yang menjauh dari ketaatan, dan mengingkan dunia. Di sisi lain hal-hal tersebut yang membuat amal-amal shalih dan doanya tertolak.” (Imam Haddad:2013:303)

              Namun wara’ dalam mencari pekerjaan juga harus menjadi prioritas muslim. Sebab dengan mencari nafkah yang halal akan berdampak bagi diri, istri, anak-anaknya untuk bertaqwa dan beramal shalih. Sebagaimana Rasulullah bersabda, Sebaik-baik makanan yang dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri”. Hadis lain juga dinyatakan, “Barangsiapa yang di waktu sore memakan makanan dari usaha yang halal maka pada waktu sore itu ia diampuni dosa-dosanya." (Imam Haddad:2013:304)

            Imam Haddad berkata, “Sungguh berhati-hatilah atas seseorang yang bekerja sampai melalaikan kewajiban kepada Allah, atau terjebak dengan sebab itu pada sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Oleh karena itu, ia akan merugi baik di dunia dan akhirat. Sungguh hal tersebut bentuk kerugian yang nyata.” (Imam Haddad:2013:305)

 Sumber: Kitab An-Nasaih al-Diniyah wal Wasoya al-imaniyah 




Posting Komentar

0 Komentar