Amanah Sebuah Tanggung Jawab kepada Allah oleh Muhammad Yusuf Aidid, S.Pd, M.Si (Dosen Agama Islam Universitas Indonesia dan PNJ)


              Amanah, merupakan salah satu sifat Rasulullah. Sifat tersebut berarti ia dipercayakan tanggung jawab atas rakyat dan kaumnya. Hal itu yang menyebabkan kharismatik Rasulullah semakin terlihat. Dengan kata lain, ketika seseorang menjalankan amanah atas tanggung jawabnya maka ia akan semakin dihargai dan dihormati oleh orang lain.

              Allah telah menitipkan kepada manusia amanah berupa ruh, jasad, dan anggota tubuh. Untuk itu, kita harus menjalani kehidupan ini dengan tanggung jawab kepada-Nya. Tanggung jawab tersebut yaitu senantiasa untuk terus patuh dan tunduk kepadanya melalui medium ibadah. Maka ulama salafuna salih sebelum mereka melakukan aktivitasnya, mereka selalu jadikan niatnya adalah ibadah.

              Nabi bersabda, “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan diminta pertnaggung jawabannya”. Hadis tersebut menunjukkan bahwa setiap dari manusia mengemban amanah dan amanah tersebut harus dijalankan dengan penuh ikhlas dan tanggung jawab. Namun berapa banyak seseorang yang dipercayakan mengemban amanah malah ia mengkhianatinya. Hal itu berarti sudah terjebak pada sifat munafik.

              Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad berkata kepada temannya tentang khianat, “Saya tidak suka kepada orang yang berkhianat setelah ia diberi amanah. Adapun seseorang yang berkhianat secara sembunyi-sembunyi ia disebut munafik, sedangkan seseorang yang khianat secara terang-terangan maka ia dikatakan sebagai pembangkang (fajir).” (Ahmad bin Hasan al-Haddad:1999:234)

              Orang yang amanah identik dengan jujur. Sifat kejujuran ini juga melekat pada diri nabi Muhammad SAW. Nabi bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu identik dengan ketenangan, dan kedustaan identik dengan keraguan”. Hadis itu mengisyaratkan bahwa orang jujur, ia mempertimbangkan dan mempertanggungjawabkan apa yang akan dikatakan, diperbuat, dan dilaksanakannya. Sebaliknya orang yang dusta ia mengerjakan sesuatu tanpa ia pikirkan namun diselimuti rasa keraguan pada akhirnya.

Maka dari itu amanah ada karena iman. Sebab keimanan tersebut yang membuat seseorang menjalankan sesuatu karena Allah bukan karena ingin pujian semata. Sebagaimana sabda nabi Muhammad, “Tidak ada iman pada diri seseorang bagi orang yang tidak melaksanakan amanah”. Hadis tersebut memberikan gambaran bahwa seseorang yang khianat atas amanah yang diberikan maka ia menafikan imannya.

Gambar diambil dari: saturadar.com




Posting Komentar

0 Komentar