Bijak Menggunakan Media Sosial Sayyid Muhammad Yusuf Aidid, S.Pd, M.Si (Dosen Agama Islam Universitas Indonesia dan PNJ)

Revolusi Industri 4.0 identik dengan internet thinking. Sehingga penggiat media sosial kian meningkat. Jika penggunaan media sosial  digunakan dengan bijak maka keadaan sosial yang nyata akan menjadi kondusif. Proporsi bijak dalam pemakaian media sosial yaitu menebarkan kata-kata yang mengandung kebaikan, nasehat, meninggalkan ujaran kebencian serta hoax. Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim)

            Syekh Muhammad bin Abdullah al-Jurdani memberikan gambaran, “Jika seseorang berkata yang mengandung kebaikan maka dia beruntung, sebaliknya apabila ia berkata dengan perkataan buruk maka ia akan rugi.” (Muhammad al-Jurdani:2012:140).

            Perkataan Syekh Muhammad al-Jurdani di atas memberikan satu spirit agar seseorang berhati-hati dalam mengungkapkan aspirasi atau pendapat di media sosial. Karena terkadang ujaran yang ada di media sosial akan mempengaruhi mindset bahkan perbuatan bagi pembacanya. Untuk itu berkata atau berkomentar seperlunya di media sosial. Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Dari baiknya keislaman seseorang yaitu ia yang meninggalkan apa-apa yang tidak dipelukannya.”(HR. Bukhari).

            Apalagi di era kebebasan berekspresi dan berpendapat ini, kebebasan tersebut harus diiringi dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Jika aspirasi dan kritik menjaga harga diri orang lain maka gagasan tersebut  akan diterima oleh orang lain. Syekh Dzun Nun Al-Mishri berkata, “Sebaik-baik manusia terhadap dirinya yaitu bisa mengendalikan lisannya kepada orang lain.”

            Pernyataan Syekh Dzun Nun al-Mishri memberikan suatu gambaran bahwa manusia harus mempunyai kehati-hatian dalam berbicara dan berkomentar terhadap kondisi yang di hadapi. Hal tersebut harus menjadi perhatian orang tua yang harus menerapkan perkataan tersebut. Sebagaimana nasehat Lukmanul Hakim kepada anaknya, “Wahai anakku, Apabila kamu ingin dihargai orang lain maka perbaguslah lisanmu, jika kamu dimuliakan oleh orang lain maka perbaiki diammu.”

            Nasehat di atas bisa menjadi pemicu bagi orang tua untuk memberikan nasihat-nasihat kepada anaknya untuk memperbaiki lisannya. Sebab komunikasi orang tua kepada anaknya begitu penting untuk membentuk pernyataan yang baik bagi anaknya. Akan tetapi di masa sekarang, sebagian dari orang tua jarang melakukan komunikasi secara intens kepada anaknya. Implikasinya anak-anak yang tumbuh remaja gampang berkomentar yang tidak semestinya di media sosial.

Sumber Gambar: rdk.fidkom.uinjkt.ac.id     

           

 

           

           

           

           

           

           




Posting Komentar

0 Komentar