Ikhlas Perspektif Sufi oleh Sayyid Muhammad Yusuf Aidid, S.Pd, M.Si (Dosen Agama Islam Universitas Indonesia dan PNJ)

            Ikhlas, sikap yang gampang diucapkan akan tetapi sulit dimplementasikan. Sikap ikhlas pastinya ada pada diri Nabi Muhammad Saw. Sebab beliau merupakan role model dari sifat mulia tersebut. Keihklasan beliau antara lain keikhlasan dalam menyebarkan agama, keikhlasan dalam menerima hal yang kurang menyenangkan, dan keikhlasan dalam memberikan sesuatu kepada orang lain. Keikhlasan-keikhlasan tersebutlah yang memberikan dampak dirinya selalu mendapat pertolongan dari Allah Swt. 

            Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt hanya menolong umat ini karena kelemahannya, doa mereka, keikhlasan mereka, dan shalat mereka."

            Syekh Yahya bin Muadz pernah ditanya tentang ikhlas, maka beliau menjawab, “Ikhlas itu memisahkan pekerjaan dari cacat seperti susu yang terpisah dari ampas dan keraknya.” Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa ikhlas itu sikap murni yang disadari oleh manusia dalam merasakan apa-apa yang dialami dan diteriman olehnya. Outputnya orang tersebut lebih survive dalam hidupnya.

            Syekh Abu Utsman Al-Hirri memberikan statmen tentang ikhlas yaitu melupakan penglihatan makhluk itu terbatas, dan mendawamkan penglihatan hanya kepada Allah. Pernyataan Abu Utsman memberikan satu pandangan bahwa penglihatan mahluk itu terbatas pada sisi zahirnya saja sedangkan sisi bathinnya hanya Allah yang mengetahui. Sedangkan sisi yang lain dalam ikhlas yaitu berniat, berbuat, dan bertindak hanya mencari ridha Allah semata . Sehingga hal-hal yang sudah dikerjakan tidak akan menyesal di kemudian hari.

            Syekh Murtai’sy berkata, “Sebenar-benarnya interaksi antar manusia seluruhnya ada dua bentuk, sabar dan ikhlas, sabar atas ikhlas dan ikhlas ata sabar.” Saat itu ada yang bertanya, “Wahai Syekh lantas bagaimana orang yang ikhlas itu?” Syekh Menjawab, “Orang yang ikhlas itu apabila hatinya terpaut kepada Allah ia menjadi tenang, dan apabila hatinya terpaut kepada manusia maka ia akan gelisah.”

            Pernyataan Syekh Murtai’sy memberikan satu konsep ikhlas, bahwa ikhlas tidak terlepas dari adanya sabar. Sebab keduanya sikap yang saling memberikan pengaruh. Sehingga orang yang sabar akan ikhlas, dan orang yang ikhlas pasti karena kesabarannya. Maka seseorang yang ikhlas pasti akan tenang dalam menghadapi kenyataan, baik kenyataan baik atau buruk yang diterimanya. Karena ia menganggap sesuatu yang diterimanya adalah kehendak yang baik dari Allah.

            Sedangkan Syekh Dzun Nur al-Misri berkata, “Tidak sempurnanya ikhlas kecuali dengan kebenaran padanya, dan sabar beserta padanya. Kebenaran itu tidak sempurna kecuali dengan keikhlasan padanya, dan terus menerus dalam menjalankannya.”

            Pendapat Dzun Nun di atas bisa diambil satu pandangan bahwa ada korelasi antara ikhlas, kebenaran, dan sabar. Maka sesuatu yang dikerjakan manusia dengan benar dan sesuai pada prosedur maka akan ditemukan kesabaran dan kehati-hatian dalam pekerjaan tersebut. Sehingga output atau hasil pekerjaannya akan berbuah ikhlas.

           

           

           

           




Posting Komentar

0 Komentar