Resensi Buku "Mengungkap Rahasia Hakikat Sabar dan Syukur" oleh Irmayanti (Mahasiswi PNJ Perbankan Syariah 2020)


Judul : Mengungkap Rahasia Hakikat Sabar dan Syukur

Nama Penulis         : Imam Al Ghazali
Penerjemah : Idrus H.Alkaf
Penerbit         : Karya Utama Surabaya
Tahun Terbit : 2010
Jumlah Halaman : 248 halaman
Tebal Buku : 1,5 cm


      


    
Allah Taala telah menciptakan makhluk secara fitrah. Sejak awal mereka membutuhkan penggunaan nafsu (syahwat) untuk menyempurnakan badan mereka, sehingga dengan ini ia menjauh dari sisi-Nya. Allah menyediakan mereka sebagian nikmat yang bisa mereka gunakan untuk meraih derajat dekat kepada-Nya. Nikmat-nikmat Allah Taala merupakan alat atau sarana yang bisa digunakan oleh hamba untuk meningkat dari tempat terendah yang sengaja diciptakan oleh Allah demi hamba-Nya agar ia bisa meraih kebahagiaan dekat dengan-Nya. Allah Taala sama sekali tidak butuh kepadanya, apakah ia dekat ataupun jauh.

    Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa sabar merupakan salah satu dari maqam-maqam agama, dan salah satunya dari manzil-manzil para salik. Seluruh maqam dala agama tersusun dari tiga perkara : ma’rifat (pengetahuan), hal (keadaan hati atau sikap), dan amal (perbuatan). Antara binatang dan malaikat juga memiliki siat sabar tetapi tidak bisa digambarkan, pada binatang sifat sabar karena kekurangannya, sedangkan pada malaikat karena kesempurnaannya. Kaitan dari tiga perkara diatas, tindakan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang disukai oleh hawa nafsu adalah amalan yang dibuahkan oleh sebuah hal ( keadaan hati ) yang disebut dengan sabar. Sabar adalah keteguhan motif agama dalam hal melawan hawa nafsu. Keteguhan motif agama ini merupakan sebuah hal yang dibuahkan oleh ma’rifat (pengetahuan) tentang bahaya nawa nafsu dalam menghalangi terwujudnya sarana sarana kebahagiaan didunia dan diakhirat.

Imam Al Ghazali juga mengatakan sabar adalah ungkapan untuk menyebutkan ketahanan motif agama dalam menghadapi hawa nafsu. Apabila keyakinan agama itu bertahan sehingga berhasil mengalahkan hawa nafsu dan terus menentang hawa nafsu, maka  berarti ia telah membela barisan Allah dan termasuk kedalam golongan orang-orang yang bersabar. Tetapi, jika keyakinan agama atau iman itu lemah sehingga dikalahkan oleh hawa nafsu, dan ia tidak mampu mengusirnya, maka ia telah bergabung dengan golongan pengikut-pengikut setan.

Dijelaskan bahwa sabar terbagi dua yaitu sabar menahan hawa nafsu dan sabar menghadapi musibah, diantara nama nama lain dari sabar antara lain ialah sabar yang dikaitkan dalam kehidupan yang berlebihan, sabar dalam berperang, sabar dalam menerima bagian sedikit, sabar yang terkait waktu yang menjemukan, sabar juga dibedakan antara kuat dan lemahnya. 

Dilihat dari lemah dan kuatnya sabar, Imam Al-Ghazali membaginya kedalam tiga kategori: Pertama, bahwa ia memaksakan pergerakan hawa nafsu, lalu penggerak hawa nafsu itu tidak lagi mempunyai kekuatan untuk melawan. Kedua, bahwa menanglah penggerak-penggerak hawa nafsu dan jatuhlah perlawanan pergerak agama, jadi dalam hal ini kesabaran dapat terkalahkan oleh hawa nafsu yang kemudian menyebabkan jatuhnya kesabaran, lalu ia menyerahkan dirinya kepada syetan dan ia tidak berjuang. Ketiga, bahwa peperangan itu adalah hal yang biasa diantara keduanya, sekali ia memperoleh kemenangan atas peperangan dan pada waktu yang lain peperangan itu mengalahkannya.

Dari pernyataan diatas telah di jelaskan tentang lemah dan kuatnya sabar untuk itu, hendaklah manusia mengetahui bahwa, peperangan selalu terjadi antara motif agama melawan motif hawa nafsu itu. Peperangan antara kedua motif tersebut silih berganti. Tempat berlangsungnya peperangan itu adalah hati seorang hamba. Bala bantuan bagi motif agama adalah para malaikatnyang menolong barisan Allah, sedangkan bala bantuan bagi motif hawa nafsu adalah setan-setan yang senantiasa menolong musuh-musuh Allah. 

Keberadaan sabar dalam separuh iman apabila iman dianggap sebagai istilah untuk menyebutkan perbedaan dan sekaligus amalan-amalan maka iman mempunyai dua pilar utama yaitu yakin dan sabar. Maksud yakin adalah seluruh pengetahuan pasti yang diperoleh dari petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambanya, menyangkut prinsip-prinsip agama. Maksud dari sabar adalah amalan yang sesuai konsekuensi dan keyakinan. Apabila iman hanya dianggap dan digunakan untuk menyebut keadaan-keadaan yang mebuahkan amalan-amalan. Keadaan tersebut terbagi menjadi dua yaitu keadaan yang bermanfaat baginya didunia maupun diakhirat dan keadaan yang membahayakan seseorang akan memiliki hal sabar, sedangkan keadaan yang bermanfaat baginya yaitu ia memiliki hal syukur.

Menurut Imam Al Ghazali syukur merupakan bagian diantara berbagai maqam (kedudukan) para penempuh jalan ruhani (salik). Syukur pun terdiri dari 3 elemen yaitu ilmu (pengetahuan), hal (keadaan hati) dan amal (perbuatan). Ilmu adalah pangkalnya, lalu mengakibatkan timbulnya hal, sedangkan hal menimbulkan amal.

Yang dimaksud ilmu adalah mengatahui dan menyadari adanya pemberian suatu nikmat dari pemberi nikmat. Sedangkan ‘hal’ adalah rasa gembira atas nikmat tersebut, dan ‘amal’ adalah melaksanakan apa yang diinginkan dan disukai oleh si pemberi nikmat. Amal tersebut berkaitan dengan hati, anggota badan dan lisan. Semua itu perlu diuraikan dengan jelas agar dapat diperoleh suatu gambaran yang mencakup seluruh segi tentang hakikat syukur.

Allah Taala telah menciptakan makhluk secara fitrah. Sejak awal mereka membutuhkan penggunaan nafsu (syahwat) untuk menyempurnakan badan mereka, sehingga dengan ini ia menjauh dari sisi-Nya. Allah menyediakan mereka sebagian nikmat yang bisa mereka gunakan untuk meraih derajat dekat kepada-Nya. Nikmat-nikmat Allah Taala merupakan alat atau sarana yang bisa digunakan oleh hamba untuk meningkat dari tempat terendah yang sengaja diciptakan oleh Allah demi hamba-Nya agar ia bisa meraih kebahagiaan dekat dengan-Nya. Allah Taala sama sekali tidak butuh kepadanya, apakah ia dekat ataupun jauh.

Perbuatan syukur dan meninggalkan kekufuran itu tidak akan terwujud kecuali dengan mengetahui apa yang disukai oleh Allah dan apa-apa yang tidak disukai-Nya. Sebab makna syukur adalah menggunakan nikmat Allah dalam hal yang disukai oleh-Nya., sedangkan makna kufur adalah kebalikan darinya. Setiap orang yang menggunakan suatu nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya pada tempat yang tidak semestinya, dan tidak sesuai dengan yang dihendaki oleh-Nya, maka berarti ia telah kufur terhadap nikmat tersebut.

Tujuan diciptakannya makhluk serta dunia dan segala isinya ini adalah agar makhluk itu bisa menggunkannya untuk bisa sampai kepada Allah Taala. Dan tidak ada jalan lain agar bisa sampai kepada-Nya kecuali dengan mencintai dan merasa senang kepada-Nya. Dan tidak akan diperoleh perasaan cinta kecuali dengan ma’rifat (ilmu pengetahuan) yang dihasilkan dari berpikir secara terus menerus. Siapa saja yang menggunakan nikmat Allah selain untuk berbuat taat kepada Allah, maka berarti ia telah kufur terhadap nikmat Allah tersebut.

Buku ini juga mengatakan bahwa nikmat itu terbagi menjadi dua yaitu, nikmat yang bersifat mutlak dan nikmat muqayyad (terikat). Nikmat mutlak terdiri dari berbagai aspek, contohnya akhirat adalah seperti kebahagiaan seorang hamba yang tinggal disisi Allah, sedangkan didunia adalah seperti iman dan akhlah mulia. Nikmat muqayyad (terikat) dilihat dari satu sisi merupakan nikmat, namun disisi lain disebut bukan nikmat. Contohnya adalah harta , dilihat dari satu sisi bisa memperbaiki agama, namun disisi lain bisa merusak agama.

Ketahuilah bahwa tidak ada manusia yang tidak ingin untuk menyusukuri nikmat kecuali karena kebodohan dan kelalaian. Sesungguhnya dengan kebodohan dan kelalaian itu, mereka telat terhalang untuk mengenali nikmat-nikmat. Tidak mungkin seseorang mensyukuri nikmat kecuali setelah mengetahui nikmat-nikmat itu. 

Kemudian seandainya mereka telah mengetahui sesuatu nikmat, mereka menyangka bahwa mensyukuri nikmat itu cukup dengan ucapan ‘Alhamdulillah’ atau ‘Asysyukru lillah’. Mereka tidak mengetahui bahwa makna syukur itu adalah menggunakan nikmat untuk menyempurnakan hikmat yang dihendaki dengan adanya nikmat tersebut, yaitu taat kepada Allah Taala. Tidak ada yang menghalangi dari bersyukur, setelah terwujudnya dua pengetahuan (ma’rifat) ini kecuali dominasi hawa nafsu dan berkuasanya setan.

Manusia yang lalai dengan kenikmatan itu disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah bahwa manusia karena kebodohan mereka tidak menganggap apa yang dimiliki oleh manusia secara umum dan apa yang dikaruniakan kepada mereka dalam segala keadaan mereka itu sebagai suatu nikmat. Karena itu, mereka tidak mensyukuri sejumlah nikmat yang telah disebutkan diatas, karena nikmat-nikmat tersebut ada pada manusia secara umum dan diberikan kepada mereka dalam segala keadaan mereka. Setiap orang yang tidak melihat keistimewaan dalam dirinya dengan nikmat yang telah diberikan oleh Allah maka ia tidak akan pernah menganggapnya sebagai nikmat.

Karena rahmat Allah itu mahaluas, dia memberikan nikmat kepada seluruh umat manusia tanpa kecuali dan dalam segala keadaanya, sehingga orang bodoh tidak menganggapnya sebagai nikmat. Perumpamaan bodoh ini ibarat budak yang berperangai buruk, ia layak dihukum dengan pukulan yang terus menerus, sehingga suatu ketika saat pukulannya dihentikan, ia baru mengakui bahwa tidak dipukulnya itu sebagai suatu anugerah. Jadi, manusia hanya mensyukuri harta yang dikaruniakan kepadanya sebagai suatu keistimewaan baginya dilihat dari banyak dan sedikitnya, sementara mereka melupakan seluruh nikmat lain yang dikaruniakan oleh Allah kepada mereka.

Buku “Mengungkap Rahasia Hakikat Sabar dan Syukur“ memberikan pandangan kepada pembaca bahwa sabar dan syukur adalah sesuatu yang berkaitan tergantung dari bagaimana manusia itu sendiri menyikapinya karena Allah Taala menciptakan segala sesuatu pasti mengandung hikmat dan nikmat. Sabar yaitu manusia harus menahan hawa nafsu agar tidak terjerat kepada sesuatu yang buruk, ini juga merupakan ujian dari Allah yang diberikan kepada umatnya. Serta syukur juga merupakan suatu bentuk terimakasih kita kepada-Nya atas nikmat-nikmat yang diberikan oleh-Nya. Jadi jika terjadi musibah pasti ada hikmah dibalik itu semua dan saat terjadi musibah kita harus menyikapinya dengan sabar. Karena Allah tidak memberikan sesuatu cobaan melebihi kemampuan umatnya.

Menariknya buku ini juga memberikan banyak contoh cerita tentang sabar dan syukur salah satunya adalah ada seorang laki-laki yang hafal Alqur’an hidup miskin suatu ketika ia mimpi ada yang menawarkn harta kekayaan tetapi ia harus melupakan ayat alqur’an namun ia tolak karena dia lebih mencintai Allah, lalu ketika paginya datanglah seorang khalifah yang membawa air di kendi dan diberikannya kendi itu kepadanya. Khalifah  meminta saran kepada pemuda ini. Namun, ketika pemuda ini bertanya apakah ia sudi menukar kerajaannya dengan seteguk air di kendi ini, lalu khalifah ini menjawab bersedia. Dari sinilah, bahwa nikmat Allah yang dikaruniakan kepada hamba-hambanya dalam seteguk air, yang diminumnya ketika dahaga adalah lebih agung dari pada seluruh kerajaan dibumi.

Jadi yang telah disebutkan tadi bahwa, Allah Taala menciptakan segala sesuatu pasti mengandung hikmat dan nikmat. Mungkin nikmat tersebut diperuntukkan-Nya bagi seluruh hamba-Nya, dan mungkin pula untuk sebagian dari mereka. Hal ini nyata dalam penciptaan bencana oleh Allah. Datangnya bencana dapat terkandung nikmat pula, mungkin bagi orang yang ditimpa bencana atau bagi orang yang tidak ditimpanya. Jadi semua keadaan dimana tidak disebut sebagai bencana mutlak atau nikmat mutlak, maka seorang hamba memiliki dua kewajiban dalam meyikapinya yaitu bersabar dan bersyukur secara bersama-sama.

Gambar diambil dari: tokopedia.com





Posting Komentar

0 Komentar