Resensi Buku "Perempuan-Perempuan Al-Quran" oleh Mayla Subekti (Mahasiswi PNJ Perbankan Syariah 2020)

 

Judul : Perempuan-Perempuan Al-Qur’an.

Penulis : Mu'thi, Fathi Fawzi Abdul.

Penerbit : Penerbit Zaman.

Tahun Terbit : Jakarta, 2015.

Halaman : 416 halaman.




Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi dan merajut harmoni dalam kehidupan. Kesejahteraan sosial bakal omong kosong bila abai pada posisi perempuan. Begitu pula sebaliknya, upaya penyejahteraan sosial bisa menemui kebuntuan bila tanpa singsingan lengan baju kaum laki-laki. Singkatnya, baik perempuan maupun laki-laki sama-sama memegang peranan penting bagi tumbuh-kembangnya perdaban yang lebih baik.

Tidak terkecuali sukses misi revolusi sosial-keagamaan nabi-nabi panutan juga tidak bisa lepas dari pengaruh perempuan. Buku Perempuan-Perempuan Al-Qur’an: Kisah Nyata Wanita yang Diabadikan Kitab Suci yang merupakan terjemahan dari kitab Nisa’ Fi Hayat al-Anbiya’ (Perempuan dalam Kehidupan Nabi-Nabi) karya Fathi Fawzi Abdul Mu’thi ini menjelaskan demikian besarnya peranan perempuan dalam kehidupan nabi-nabi. Yaitu mereka yang mengikrarkan keimanan, meneguhkan perjuangan, serta memutikkan sari harapan bersama nabi demi merengkuh kebenaran sejati.

Buku Perempuan-Perempuan Al-Qur’an menampilkan gambaran indah mengenai kehidupan para wanita yang diabadikan Al-Qur’an supaya jadi panutan dan cermin bagi semua umat manusia. Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama menceritakan nama-nama perempuan dengan beragam watak dan karakternya. Masing-masing telah menorehkan sejarah penting dalam kehidupan para nabi dan rasul sebelum Muhammad saw.

Dimulai dengan kisah Hawwa, Istri Adam a.s. Menceritakan tentang Allah menciptakan Adam dan Hawwa dari satu nafs dan Hawwa diciptakan dari tulang rusuk Adam dan ditempatkan di surga. Sejak diciptakan itulah Hawwa hidup di surga sebagai pendamping Adam. Mereka hidup bahagia; menikmati fasilitas terbaik, menyantap makanan terenak dan buah terlezat, minum air tersegar, menghirup aroma paling semerbak, mengenakan busana termewah dan terindah. Mereka diperingatkan agar jangan sekali-kali makan apa pun dari pohon itu. Tetapi, Adam lengah. Ia dan Hawwa terpedaya oleh godaan Iblis. Dengan makan buah pohon terlarang itu berarti Adam dan Hawwa telah berbuat salah. Mereka lalu memohon kepada Allah dibebaskan dari kesalahan itu dan dimaafkan. Sangat mungkin, mereka sebenarnya akan dijebloskan dalam neraka sebagai hukuman. Tetapi, Allah buru-buru mengabulkan tobat mereka. Ini pelajaran bahwa tobat dapat dapat menghapus kesalahan. Allah menghukum Adam dan Hawwa dengan cara menurunkan mereka dari surge, tempat tinggal semula. Adam dan Hawwa kini turun ke bumi. Kehidupan surga telah terhenti. Waktu terus berlalu. Adam dan Hawwa menjalani roda kehidupan

Kisah selanjutnya adalah kisah Istri Nuh a.s. Istri Nuh a.s tidak disebutkan dalam Al-Qur’an siapa nama istri Nuh. Begitu pula dalam kitab Taurat. Sikap istri Nuh yang berwatak hegemonis, dan dengan penuh ambisi menyeru kaumnya membenci dan mengikngkari suaminya. Atas sikap dan tindakannya itu, ia layak ‘dinobatkan’ sebagai ikon kejahatan. Bahkan, dialah kejahatan itu sendiri. Bahkan, tak segan-segan ia mendesak putra-putranya untuk menginkari seruan sang ayah. Sehingga, Istri dan putra Nuh, Kan’an, tidak ikut naik perahu. Keduanya kafir dan ditetapkan Allah menanggung kecelakaan dan kebinasaan.

Kisah Sarah, istri Ibrahim a.s. Kecantikan Sarah yang begitu mengagumkan, seorang raja jahat bernama Raja Fir'aun ingin mempersuntingnya sebagai selirnya. Namun, karena kuasa Tuhan dan doa-doanya yang begitu tulus, Sarah bisa lepas dari raja Fir'aun. Oleh raja itu bahkan ia diminta pulang dan diberi hadiah seorang budak bernama Hajar yang suatu saatnya nanti menjadi istri Nabi Ibrahim As dan melahirkan seorang Nabi mulia yakni Nabi Ismail. Sepulangnya dari tempat raja Firaun ia kembali hidup bahagia bersama Nabi Ibrahim. Namun ada satu hal yang membuatnya begitu sedih, dalam pernikahannya yang telah berjalan sangat lama, ia dan suami belum juga dikaruniai seorang anak. Meski begitu, baik ia maupun Nabi Ibrahim tetap sabar dan terus berdoa juga berusaha melakukan yang terbaik agar segera dikaruniai anak. Nabi Ibrahim bahkan tak henti-hentinya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak yang shaleh. Haru mendengar doa suaminya, Sarah pun menawarkan Hajar seorang budak yang diberikan Fir'aun untuknya agar dijadikan istri. Nabi Ibrahim kemudian menikahi Hajar. Dan benar, Tuhan mendengarkan doanya, dari Hajar ia dikaruniai seorang anak bernama Ismail. Nabi Ibrahim tentu sangat bahagia dengan kehadiran seorang anak di keluarganya. 

Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail pergi dari rumahnya sesuai wahyu yang diterimanya dari Tuhan. Nabi Ibrahim membawa Hajar dan anak tercinta ke suatu lembah dekat Baitullah yang kering dan tidak ada tanaman. Atas doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim, lembah tempat tinggal Hajar dan Ismail mulai berubah. Lewat Ismail, munculah air Zam-Zam yang suci dan bermanfaat hingga kini. Setelah meninggalkan Hajar dan Ismail, Nabi Ibrahim pun kembali pulang. Ia lalu menjalani hari-harinya seperti biasa dengan bahagia bersama Sarah. Dan pada suatu hari ketika usia keduanya sudah sangat tua, malaikat datang ke rumahnya dan memberi kabar gembira. Tuhan memang Maha Besar, Sarah benar-benar mengandung. Melalui ketetapan-Nya, di usia yang sudah tidak muda lagi yakni 99 tahun, istri Nabi Ibrahim itu dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Ishaq. Nabi Ishaq sendiri adalah ayah dari Nabi Ya'Qub. Dan Ya'qub adalah ayah dari Nabi paling tampan sepanjang masa yakni Nabi Yusuf.

 Kisah istri Luth a.s. Istri Nabi Luth itu bernama Wa’ilah yang tidak berbeda dengan kaum Sodom pada umumnya. Istri Luth berlaku jahat, membantu perbuatan terkutuk mereka, dan memanas-manasi mereka untuk berbuat maksiat, tanpa memedulikan kemurkaan Allah dan kejengkelan Luth. Kaum Sodom, Amora, dan Sughar adalah symbol kejahatan dan kefaksikan. suatu hari, Allah Swt mengutus malaikatnya untuk berubah menjadi laki-laki yang sangat tampan menuju wilayah Sodom. Malaikat itu sebelum sampai ke Sodom, terlebih dahulu bertemu Nabi Ibrahim as dengan menyampaikan beberapa kabar. Kabar pertama adalah akan lahirnya Nabi Ishaq as. Sedangkan kabar yang kedua adalah bahwa malaikat tersebut akan menuju ke wilayah Sodom untuk menimpakan azab dari Allah Swt. Nabi Ibrahim yang mendengar kabar itu pun memberi tahu bahwa Sodom merupakan tempat tinggal Nabi Luth as. Malaikat yang menjelma menjadi menusia itu pun meyakinkan kepada Nabi Ibrahim bahwa Nabi Luth beserta keluarganya yang beriman akan diselamat kan Allah Swt. Singkat cerita, malaikat itu sampai ke Sodom dan langsung bertamu ke rumah Nabi Luth as. Istri Nabi Luth yang melihat laki-laki sangat tampan itu tidak peduli dengan perintah Nabi Luth untuk merahasiakan kedatangan tamunya. Wa’ilah pun memberikan kabar kepada kaum laki-laki Sodom bahwa di rumahnya ada laki-laki yang begitu memesona. Tak ayal, para lelaki Sodom pun segera menyerbu rumah Nabi Luth dan masing-masing dari mereka berharap dapat melampiaskan syahwat menyimpangnya. Lelaki rupawan yang tidak lain adalah malaikat Allah tersebut akhirnya meminta kepada Nabi Luth dan keluarganya yang beriman agar segera pergi dari wilayah Sodom. Sementara istri Nabi Luth termasuk dari mereka yang diazab Allah karena tidak mau mendengar apa yang dikatakan suaminya.

Kisah cinta Zulaikha terhadap nabi Yusuf a.s. Zulaikha adalah wanita yang sangat cantik dan berpendidikan. Karenannya lah ia diperistri perdana menteri. Bahkan meski Zulaikha tak memiliki anak sekalipun, sang perdana menteri tak menikah lagi. Perdana menteri sangatlah mencintai Zulaikha. Namun ternyata hati Zulaikha berkata beda. Ia jatuh cinta pada pria lain yang bukan mahramnya. Namun apa daya, Zulaikha tak mampu memendam perasaannya. Ia tak kuasa atas gejolak hatinya yang menggebu. Ia benar-benar jatuh cinta pada Yusuf. Cintanya itu pun membutakan dirinya hingga berniat melakukan perbuatan keji. Yusuf menolaknya dan segera berlari meninggalkan Zulaikha. Namun wanita itu terus mengejarnya. Ia memegangi pakaian Nabi Yusuf dari belakang agar tak kabur. Ia marah karena Yusuf menolaknya. Namun Nabi Yusuf bersikeras pergi  hingga robeklah pakaiannya dan membuka punggungnya. Suami Zulaikha pun melihat jelas bahwa pakaian Nabi Yusuf robek di bagian belakang. Terbuktilah bahwa istrinya telah berdusta dan berbuat senonoh dengan menggoda Yusuf. berita itu tersebar dengan cepat. Para pembantu di rumah perdana menteri sangat banyak hingga tak mungkin menyembunyikan insiden Zulaekha dari publik. Maka tersebarlah kejelekan Zulaekha di tengah masyarakat. Zulaekha geram menjadi bahan gosip masyarakat. Ia pun kemudian mengundang wanita-wanita yang mengejeknya untuk jamuan makan di rumahnya. Saat peralatan makan sudah siap di hadapan para wanita, Zulaekha meminta Yusuf menghadirkan hidangan. Begitu melihat ketampanan Yusuf, para wanita begitu terpesona hingga mengiris jari-jari tangan mereka sendiri dengan pisau di meja makan. Akhir kisah Nabi Yusuf diketahui dalam Al-Qur’an bahwa beliau akhirnya keluar dari penjara dan menjadi pemimpin di Mesir. Beliau lalu bertemu kembali dengan ayahnya. Namun bagaimana akhir kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaekha tak disebutkan dalam kitabullah. Al-Qur’an tak mengupas lebih jauh perihal Zulaikha setelah pembebasan Yusuf dari penjara.

Kisah Rahma, istri Nabi Ayyub a.s. menceritakan bagaimana kesetiaan Rahma terhadap nabi Ayyub a.s. Nabi Ayyub a.s. yang dulunya tampan dan kaya raya kini tak punya apa-apa. Anak, harta, dan sahabat telah tiada. Ia juga terserang penyakit yang menyebabkan tubuhnya bernanah dan menjijikkan. Tak seorang pun mau tinggal bersamanya kecuali sang istri, Rahmah. Rahmah bahkan tak tahu sampai kapan penderitannya menemani Ayyub akan selesai. Pada siang hari, Rahmah pergi mencarikan makanan dan minuman bagi Nabi Ayyub AS. Pada malam hari, ia berdoa, bersyukur, memuji Allah, dan memohon kepada-Nya atas ujian yang menimpa mereka. Rahmah tak sanggup membayangkan kondisi suaminya. Ia pun kembali menemui Ayyub AS. Setibanya di sana, ia tak melihat tenda yang biasa ia tinggali bersama Ayyub. Tak ada yang ia kenali. Semua telah berubah.Rahmah mengelilingi tempat itu sembari menangis mencari-cari suaminya. Rahmah pun memeluk Nabi Ayyub AS dan tak hendak melepaskannya. Mereka melewati semua yang mereka miliki. Setelah mendapatkan istrinya kembali, Nabi Ayyub AS tak lupa akan sumpahnya. Ia ingin melaksanakan sumpah tersebut dan mencambuk istrinya 100 kali. Tapi, Allah memberi keringanan. Ia memerintahkan Nabi Ayyub AS mengambil rumput dengan genggaman tangannya dan mencambuk Rahmah sekali saja. Oleh Sri Handayani  ed: Hafidz Muftisany.

Sedangkan bagian dua mengisahkan perempuan-perempuan di balik turunnya ayat-ayat suci al-Qur’an.  Hal ini menunjukkan adanya perhatian khusus al-Qur’an terhadap kaum perempuan. Di sana abadi nama Ummul Mukminin Zainab bint Jahsy, Ummul Mukminin Aisyah bint Abu Bakar, Ummul Mukminin Hafsah bint Umar, Ummu Kaltsum bint Aqabah, hingga Khaulah bint Tsa’labah yang sempat menggugat Rasulullah. Diabadikannya nama-nama perempuan-perempuan dalam al-Qur’an tersebut tidak lain agar menjadi cerminan bagi umat manusia di masa mendatang. Agar dari sana manusia sanggup memetik pelajaran.

Mengenai Hajar al-Mishiriyyah. Hajar merelakan putra kesayangnya Ismail untuk disembelih suaminya sendiri, sesuai perintah (cobaan) Allah. Publik pembaca barangkali sudah tahu bahwa  Hajar adalah istri Nabi Ibrahim a.s. sekaligus Ibunda Nabi Ismail a.s.. Tetapi tidak banyak yang tahu bahwa sejatinya Hajar adalah putri kesayangan salah seorang pembesar Memphis, ibu kota kerajaan Mesir Kuno. Hajar menjadi tahanan musuh setelah pasukan Hexos menyerang Mesir sampai lumpuh. Hajar justru mendapatkan hidayah setelah pertemuan dalam penjara dengan Sarah, istri Nabi Ibrahim a.s. Hajar juga berperan penting dalam kerja mendirikan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Besarnya cinta Hajar kepada Allah tidak pernah sia-sia. Lewat limpahan mukjizat kepada Ismail, Allah telah membebasakan Hajar dari kehausan tak terkira di padang sahara. Allah pula yang menumpulkan pedang Nabi Ibrahim a.s. saat hendak menyembelih Ismail, lalu menggantinya dengan domba. Sampai maut kelak menemui Hajar dengan lembut dan santun di punggung Ka’bah.

Kisah yang tidak kalah menarik dalam buku ini adalah mengenai Khaulat bint Tsa’labah. Suaminya, Aus bin al-Shamit, menikahinya dalam keterpautan usia yang cukup jauh. Namun mereka tetap hidup dalam kebahagian sebab saling cinta dan kasih sayang. Kebahagian mereka diperlengkap dengan hadirnya si buah hati, al-Rabi’. Pada suatu waktu, badai kehidupan datang menghantam. Bahtera keluarga mereka oleng. Pertengkaran tak terelakkan. Semakin lama semakin meruncing. Masing-masing tak mau kalah, juga tak mau mengalah. Suara meninggi, keributan semakin menjadi. Setan tertawa karena berhasil memperdaya hati dan pikiran mereka. Aus benar-benar tak dapat mengontrol emosinya. Dari bibirnya yang agak gemetar, kata-kata kasar keluar, “Wahai Khaulah, engkau bagiku bagai punggung ibuku.” Mendapatkan zhihar, Khaulah bagai disambar petir. Hatinya remuk saat sadar bahwa zhihar hukumnya sama dengan talak di zaman Jahiliyah.

Maka ketika Aus pulang setelah menenangkan pikirannya, Khaulah dengan tegas menolak rayuan bercinta dari Aus, bapak kandung dari anaknya. Secara naluriah Khaula memang mencitai Aus, tetapi kadar cinta itu tidak lebih besar dibanding ketakwaannya kepada Allah. Aus tetap merayunya, mengaku salah, lalu menjelaskan bahwa zhihar yang dikatakannya barusan tidak disertai unsur kesengajaan. Aus setengah memaksa mencoba berkilah, dikatakannya zaman Jahiliyah selesai sudah. Tetapi Khaulah tetap tidak mau gegabah. Ditemuinya Rasullah, sebaik-baiknya manusia dalam mendiskusikan masalah. Jawaban Rasulullah benar-benar menguatkan hati sekaligus menyedihkan Khaulah. Zhihar telah membuat dirinya haram bagi Aus. Tembok yang selama ini dijadikan sandaran seakan telah runtuh.

Kisah duka keluarga Aus-Khaulah ini yang menyebabkan turunnya surah al-Mujadilah: 2-4. Agar bisa menjadi pasangan suami-istri, Aus wajib memerdekakan seorang budak. Bila tidak mampu, maka wajib baginya berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Bila yang demikian juga tidak kuasa, maka pilihan ketiga adalah memberi makan enam puluh orang miskin. Sungguh sayang, Aus bukan berasal dari keluarga kaya. Jangankan memberi makan enam puluh orang miskin, untuk makan keluarganya sendiri sehari-hari tidak cukup. Maka Rasulullah saw. Bersabda, “Kalau begitu, kaluarkan satu wasaq kurma, dan sedekahkan kepada enam puluh orang miskin.” (hlm. 376-384)

Buku “Perempuan-Perempuan Al-Qur’an” memberikan pelajaran dan hikmah di setiap kejadian dalam cerita. Setidaknya kesan itulah yang didapatkan setelah membaca buku ini. Menariknya, buku ini mengambil perbandingan  dari data-data historis beserta riwayat terpercaya  dengan Kitab Suci al-Qur’an sebagai rujukan utamanya, sedangkan Kitab Perjanjian Lama (Taurat) dan Kitab Perjanjian Baru (Injil), membuat buku ini tidak hanya kaya data langka, tetapi juga sarat dengan hikmah dalam bingkai makna. Pilihan gaya bahasa disertai dialog-dialog yang hidup membuat buku berlatar sejarah ini tidak jatuh membosankan. Sejatinya ada banyak pelajaran kehidupan penting yang bisa direfleksikan dari kisah-kisah perempuan-perempuan yang dimulikan maupun yang dihinakan di dalam al-Qu’an.





Posting Komentar

0 Komentar