Riview Buku "Belajar Mudah Akidah Ahlussunnah wal Jamaah"

 

    

Judul buku: Belajar Mudah Akidah Ahlussunnah wal

Jamaah 

Penulis         : Dr. ‘Ali Jum’ah

Penerbit       : PT Qaf Media Kreativa

Tahun terbit  : 2019

Halaman       : 312 Halaman

ISBN             : 978-602-5547-60-7

 




Hal terbaik yang diberikan Allah kepada hamba-Nya ialah akidah yang benar serta amal yang baik. Tujuan penciptaan hamba sendiri yaitu untuk mengesakan Allah, tunduk beribadah kepada-Nya, kembali kepada-Nya, terutama kala sulit dan lupa, kala mengambil nasihat dan pelajaran, demi meraih kebahagian dunia dan akhirat serta menggapai ketenangan jiwa.  Dengan adanya akidah yang kuat di dalam diri seseorang akan melahirkan pribadi yang empati, simpati, sopan, santun, tutur kata yang lembut, dan lain-lain.

Manusia tidak bisa hidup satu hari saja tanpa adanya ideologi atau keyakinan agama yang menggerakan dirinya dan memengaruhi sikap serta perbuatannya. Oleh karena itu, akidahlah yang kemudian menggerakan seseorang untuk berbuat kebaikan serta beramal. Dan juga keimanan inilah yang menggerakan pemiliknya untuk berpeganng teguh terhadap syariat Islam dan mengikuti perintah-perintah Al-Qur’an dan Sunnah.

Menurut kebahasaan, akidah berasal dari kata al-‘qad yang berarti ikatan, penetapan, pengukuhan, dan kepercayaan kuat. Lalu, menurut istilah akidah merupakan sesuatu yang mengikat hati manusia dengan pasti, baik perkara yang hak maupun perkara yang batil. Maka dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa akidah islam adalah keimanan yang pasti bahwa Pencipta langit dan bumi adalah Allah, Rab seluruh alam.

Dalam buku ini, dijelaskan bahwa para ulama tahqiq telah menghimpun apa yang pernah disampaikan para ahli kalam tentang tauhid dalam dua hal penting. Yang pertama, tauhid adalah meyakini bahwa apa pun yang terbayang dalam angan-angan, maka bagi Allah adalah sebaliknya. Yang kedua, tauhid adalah meyakini Dzat Allah tidak serupa dengan dzat apa pun, meski demikian bukan berarti mengabaikan sifat-sifat-Nya.

Buah ilmu tauhid ialah mengenal Allah melalui dalil-dalil yang qath’i (pasti). Kelebihan ilmu tauhid sendiri yaitu sebagai ilmu yang mulia karena hubungannya dengan Dzat yang paling mulia. Sehingga, sesuatu akan mulia karena kemuliaan sesuatu yang menaunginya.

Pembahasan-pembahasan dalam ilmu tauhid ada tiga. Yang pertama, ilahiyyat ialah masalah-masalah yang berkaitan dengan ketuhanan. Yang kedua, nabawiyyat ialah masalah-masalah yang berkaitan dengan para nabi dan rasul. Lalu yang ketiga, sam’iyat ialah masalah-masalah yang tidak dapat digali dalilnya secara akal kecuali melalui informasi Al-Qur’an dan hadis.

Iman adalah membenarkan segala informasi yang dibawa Nabi saw., secara global maupun secara terperinci, dan informasi tersebut diketahui sebagai perkara penting dari agama.

Adapun yang dibawa Nabi saw. tak lain adalah agama Islam, yang seseorang tidak akan selamat kecuali memeluknya, berdasarkan firman Allah, “Katakanlah, sesungguhnya sembahyangu, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah),” (Al-An’am [6]: 162-163). Dengan kata lain, tidak ada keselamatan di sisi Allah bagi seseorang kecuali memeluk Islam.

Orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat disyaratkan untuk memberlakukan hukum-hukum orang mukmin kepadanya, yaitu diperintahkan shalat serta zakat, dikuburkan jenazahnya di kuburan orang-orang muslim, dan lainnya. Hal itu terjadi karena pembenaran yang dilakukan hati, meskipun keimanan sifatnya samar dan tersembunyi, pasti memiliki indikasi dan bukti nyata. Sehingga, siapa saja yang mengakui beriman dengan lisannya, tanpa disertai hati, maka dia adalah munafik.

Dalam buku ini juga disampaikan mengenai keutamaan dalam berzikir dan berdoa. Berzikir memiliki keutamaan yang sangat mulia, pahala yang besar, dan kebaikan yang tak terhingga. Bahkan, di dalamnya terkandung petunjuk, cahaya, dan kesembuhan bagi hati. Dalam hal ini, Allah berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (Al-Baqarah [2]: 152).

“Ingatlah kamu kepada-Ku…” adalah suatu kalimat yang menjadi pilar dan kemashlahatan dunia, sekaligus pilar kebahagian dan ketenangan kalbu. Dengannya, hubungan antara makhluk dan sang Khalik menjadi erat. Zikirnya seorang hamba kepada Allah dapat dilakukan dengan apa saja, baik dengan lisan, dengan hati, maupun dengan anggota tubuh. Berzikir dengan lisan dapat diwujudkan dengan mengucap kalimat-kalimat thabiyyah yang memuji kesucian, keagungan, dan kebaikan-Nya.

Sementara itu ada pula keutamaan doa. Doa adalah puncak tingkat penghambaan kepada Allah. Di dalamnya terkandung makna pujian kepada-Nya, disertai pengakuan atas kemurahan dan kemuliaan-Nya. Rasulullah saw. menjadikan doa sebagai bagian dari ibadah, bahkan sebagai intisarinya.

Allah sendiri telah menunjukkan kepada kita, bagaimana tata cara berdoa yang baik, kapan saat-saat mustajab untuk berdoa, di mana saja tempat-tempatnya, siapa saja yang akan dikabulkan doanya, dan dalam keadaan apa Allah mengabulkannya.

Di samping itu, doa juga merupakan bukti nyata atas keimanan seorang hamba kepada Allah, sekaligus wujud nyata atas keimanan seorang hamba kepada Allah, sekaligus wujud nyata atas ketawakalan dan kepercayaan kepada-Nya. Anas ibn Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Doa adalah sumsumnya ibadah.”

Abu Umamah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Pintu langit akan dibuka dan doa akan dikabulkan dalam empat kesempatan: (1) saat bertemu musuh, (2) saat turun hujan, (3) saat akan menunaikan shalat, (4) saat akan melihat Ka’bah.” Demikian pula doa akan dikabulkan di tempat-tempat suci dan penuh berkah, seperti Baitullah.

Doa harus dilakukan dengan ikhlas kepada Allah semata. Sebab, Dialah Dzat yang menjauhkan segala keburukan, mengabulkan doa orang yang terdesak, menolak segala petaka, memberikan segala kebaikan dan kenikmatan. Kemudian, kita juga dianjurkan berdoa dengan asmaul husna dan asma-asma Allah lainnya, sebagaiman dalam Al-Qur’an, “Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu” (Al-A’raf [7]: 180).

Asmaul husna artinya Allah memiliki nama-nama terbaik, teragung, dan termulia, karena mencakup makna-makna pujian, penyucian, sekaligus pengagungan. Nama-nama itu memiliki makna terbaik dan termulia, sesuai dengan sifat-sifat keagungan serta kesempurnaan-Nya sebagai Tuhan seluruh alam.

Al-Bukhari, Muslim, dan yang lain meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersadba, “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama. Seratus kurang satu. Siapa pun yang menghitungnya maka dia akan masuk surga.” Adapun makna menghitungnya dalam hadis tersebut ialah “memeliharanya”. Sebaik baiknya memelihara adalah memelihara apa yang diinginkan oleh nama yang bersangkutan, membenarkan makna-maknanya, serta mengamalkan segala tuntutannya.

            Dinyatakan oleh Jumhur Ahli Waljamaah bahwa manusia yang terhormat, baik dari kalangan para nabi maupun dari kalangan shiddiqin, adalah lebih utama daripada malaikat yang terhormat. Begitu pula manusia yang awam dari kalangan muslimin yang saleh adalah lebih utama daripada malaikat yang awam.

            Para Ahli Sunnah juga beragumen bahwa manusia lebih mulia. Allah menempatkan syahwat dan hawa nafsu pada manusia guna kesempurnaan ujian. Siapa saja yang mampu memerangi dan mengalahkan syahwat serta hawa nafsu tersebut, maka dia berhak atas kemuliaan dan balasan yang tak berhak disandang oleh makhluk serta ciptaan lainnya.

            Sedangkan malaikat adalah makhluk lembut berupa cahaya, mampu menjelma atau berwujud lain yang sangat indah. Taat kepada Allah merupakan tugas dari para malaikat. Siang dan malam mereka selalu bertasbih. Tidak sama sekali berbohong dan tak prnah bermaksiat kepada Allah. Mereka hanya menjalankan perintah Allah.

            Allah telah berkehendak menjadikan hikmah dan kemaslahatan yang luar biasa dalam makhluk-makhluk-Nya. Dia berkehendak menyadarkan para hamba-Nya bahwa alam semesta ini milik Sang Maha Pencipta yang maha mengatur. Allah adalah Dzat yang maha mengetahui segala, baik secara global maupun secara terperinci. Dia maha mengetahui segala perkara, baik secara umum maupun secara spesifik.

Buku “Belajar Mudah Akidah Ahlusunnah Wal Jamaah Segala Hal yang Anda Pahami tentang Dasar-Dasar Keyakinan Seorang Muslim” telah memberikan pandangan kepada pembaca bahwa tujuan penciptaan hamba adalah mengesakan Allah, tunduk beribadah kepada-Nya, kembali kepada-Nya, terutama kala sulit dan lupa, kala mengambil nasihat dan pelajaran, demi meraih kebahagian dunia dan akhirat serta menggapai ketenangan jiwa. Karena pada buku ini Dr. Ali Jum’ah membahas topik yang mampu melembutkan hati, seperti akhlak yang bertaut erat dengan akidah, makna asmaul-husna, dan pentingnya berzikir. Buku ini sangat bagus untuk dibaca, terutama bagi seorang muslim yang ingin mengetahui lebih dalam tentang dasar-dasar keyakinan seorang muslim.

Menariknya di akhir buku ini diperindah dengan mengulas sifat-sifat Rasulullah saw. Salah satunya yaitu beliau dikenal sebagai pemuda yang amanah. Hal itu terlihat saat beliau sering bergadang dengan pamannya. Sebagai pemuda yang cerdas dan pintar, saat berdagang Nabi tak sekedar pergi membawa uang lalu pulang membawa barang dagangan, tetapi membelanjakan uang tersebut dengan baik dan membawa barang-barang dagangan yang telah dibelinya ke wilayah Syam. Setiba di Syam, beliau menjual barang-barang tersebut sehingga meraih keuntungan besar. Berkat kecerdasannya, modal dagang beliau terus bertambah dan terus berkembang berkali-kali lipat. Dari sifat Rasul tersebut dapat kita teladan selain amanah kita juga harus berfikir cerdas.

Secara tekstual, akidahlah yang menggerakan seseorang untuk berbuat kebaikan serta beramal. Serta keimanan yang menggerakan pemiliknya untuk selalu berpeganng teguh terhadap syariat Islam dan mengikuti perintah-perintah Al-Qur’an dan Sunnah. Kita sebagai manusia telah diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang termulia dan terhormat. Maka dari itu, berimanlah kita kepada Allah. Teruslah termotivasi dalam berbuat baik dan beramal.

Marilah kita memohon kepada Allah agar dikarunia akidah yang lurus dan dapat menyelamatkan kita dari segala huru-hara hari kiamat.  Tak lupa kita juga memohon pada-Nya keimanan yang terus bertambah, keimanan yang mengakhiri hidup kita dengan kebahagiaan, serta amalan yang saleh dan dapat mengantarkan kita kepada kenikmatan surga.

 




Posting Komentar

0 Komentar