Tanda-Tanda Kiamat oleh KH. Ahmad Rusdi, LC, M.Pd (Pembina PERSADA NU)

Renungan hari ini merespon permohonan seorang sahabat untuk membahas hadits kedua dari kitab al-Arba’in an-Nawawiy yang terkait dengan hari kiamat. Hadits tersebut memang bukan hanya masalah kiamat, tapi juga terkait dengan masalah Islam, iman dan ihsan. Namun supaya tidak terlalu panjang bahasannya, ya kita fokus dengan masalah tanda-tanda kiamat yang ada pada hadits tersebut sebagaimana permohonan sahabat kita. Berbicara kiamat, adalah berbicara tentang obyek yang kita tidak tahu kapan terjadinya, bahkan Rasul SAW sendiripun mengatakan tidak tahu, ketika ditanya oleh malaikat Jibril; “ Fa akhbirniy ‘an al-Sa-‘ah, Faqola Rasul SAW:” Ma al-mas-ulu ‘anha bi a’lama min al-Sail.” Lalu malaikat Jibril menanyakan ke beliau tentang tanda-tandanya.

...قَالَ , فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ , قَالَ ” مَا المَسْئُوْلُ بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ ” قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا . قَالَ ” أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ” . ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيَا , ثُمَّ قَالَ ” يَا عُمَر , أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟” , قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ , قَالَ ” فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يعلمكم دينكم (رواه مسلم)


“…orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang kiamat.” Rasul SAW menjawab: Tidaklah yang ditanya lebih mengerti dibanding yang bertanya. Kemudian orang tersebut berkata lagi: ” Beritahukan kepadaku tanda-tandanya.” Rasulullah SAW menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya; jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan.” Kemudian orang tersebut pergi, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?” Saya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah SAW bersabda, “Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu.” (HR. Muslim).
Dalam kitab al-Tuhfah al-Rohbaniyyah fi Syarh al-Arba’in haditsan al-Nawawiyah wa ma’aha Syarh al-Ahadits allatiy Zadaha Ibnu Rojab al-Hambali, dijelaskan tentang maksud dari tanda-tanda kiamat dalam hadits tersebuut adalah: “ Umat Islam kelak akan menguasai negeri syirik, sehingga banyak tawanan, maka budak-budak banyak melahirkan anak tuannya dan anak ini akan menempati posisi majikan karena kedudukan bapaknya. Hal ini menjadi sebagian tanda-tanda kiamat. Ada juga yang mengatakan bahwa itu menunjukkan banyaknya anak yang durhaka sehingga anak memperlakukan ibu seperti tuan memperlakukan budak dengan merendahkan dan kata-kata kasar, memukul bahkan menjadikan seperti pembantu. Pendapat inilah yang dipilih oleh al-Hafizh Ibnu hajar.”
Hadits di atas, Menurut Imam Ibnu Daqqiq, juga menunjukkan makruh hukumnya berlomba-lomba membangun bangunan yang sama sekali tidak dibutuhkan. Sebagaimana sabda Rasulullah,” Anak adam diberi pahala untuk setiap belanja yang dikeluarkannya kecuali belanja untuk mendirikan bangunan”. Sementara Kalimat, “Penggembala Domba” secara khusus disebutkan karena merekalah yang merupakan golongan badui yang paling lemah sehingga umumnya tidak mampu mendirikan bangunan, berbeda dengan para pemilik onta yang umumnya orang terhormat (Imam Ibnu Daqqiq, Syarh al-Arba’in Haditsan al-Nawawi, cetakan al-Faisholiyah, hal. 16).

Penjelasan yang hampir sama juga diutarakan oleh Imam Ibnu Daqqiq dimana beliau mengatakan bahwa umat Islam akan menguasai negeri kafir sehingga banyak tawanan yang akhirnya budak perempuan---hasil tawanan--- tersebut melahirkan anak dari tuannya, dan anak ini posisinya sebagai tuan karena merupakan keturunan tuannya. Dan dikatakan makna hadits tersebut juga mengambarkan rusaknya keadaan manusia sampai para tuan menjual ibu yang melahirkan anak-anak mereka, dan hal ini akhirnya memungkinkan anak membeli ibunya--- sebagai budak--- dan dia tidak mengetahuinya. Dan dikatakan juga banyaknya anak yang durhakan kepada orang tua dimana mereka memperlakukan ibunya seperti budak. “ ( Imam Ibnu Daqqiq, Syarh al-Arba’in Haditsan al-Nawawi, cetakan al-Faisholiyah, hal. 16) Sementara Syaikh Dr. Musthofa Dieb al-Bugho dan Muhyiiddin Mistu dalam Kitab al-Wafi Syarh Fi al-Arbain al-Nawawi menjelaskan maksud hadits di atas sebegai berikut: a. Rusaknya zaman, lemahnya akhlak dimana tidak sedikit anak-anak yang durhaka pada orang tua, tidak berbakti kepada mereka, dan mereka memperlakukan orang tuanya seperti tuan memperlakukan budak.
b. ما وقعت مباديه ولم يستحكم. tanda yang sudah terjadi, namun belum berakhir.
b. Kehidupan yang jungkir balik sampai masyarakat kelas bawah dan bodoh---yang tidak layak jadi pemimpin--- menjadi pemimpin, pemberian wewenang kepada orang yang tidak mempunyai kemampuan dan bukan ahlinya, melimpahnya harta di tangan manusia, merebaknya kemewahan dan manusia berfoya-foya, bahkan mereka berlomba-lomba dan saling meninggikan bangunan dengan penuh kebanggaan. Merasa tinggi dan sombong pada orang lain dan urusan mereka justru dikuasai oleh orang-orang fakir dan sengsara. Di akhir renungan, sebagai tambahan mungkin perlu disampaikan: 1. Kiamat pasti akan datang, dan hal tersebut hanya Allah yang tahu waktunya. Kita hanya diinformasikan tanda-tanda kedatangannya, sebagaimana firman Allah SWT: فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?” (QS. Muhammad: 18) 2. Terkait tanda-tanda kiamat, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab *Fathul Bari Syarh Shahih Imam Bukhari *,Juz 13, kitab al-Fitan, cetakan al-Amir Sulthon bin Abd al-Aziz Ali Su’ud, 2001, hal 90 , membaginya sebagai berikut: a. ما وقع على وَفق ما قال tanda yang sudah terjadi sebagaimana yang Rasul SAW sampaikan. c. ما لم يقع منه شيء ولكنه سيقع tanda yang belum terjadi dan akan terjadi.
"Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapa pun yang engkau suka karena sungguh kalian pasti berpisah. Berbuatlah sesukamu karena sungguh engkau pasti menemui (balasan) dari perbuatanmu tersebut. ( HR. al-Baihaqi).
3. Terlepas kapan datangnya hari kiamat karena hakikatnya hanya Allah yang tahu, kita hendaknya dan sepatutnya menyiapkan diri kita untuk menyongsong datangnya hari tersebut. Karena kita pasti akan diminta pertanggungjawaban dari apa yang kita lakukan di dunia ini. Dan modal utama tidak lain adalah ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (Q.S al-Baqarah: 197)


عِشْ مَا شِــئْتَ فَإِنَّـكَ مَـيِّتٌ وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ وَاعْـمَلْ مَـا شِئْتَ فَإِنَّـكَ لاَقِـيْـهِ
"Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapa pun yang engkau suka karena sungguh kalian pasti berpisah. Berbuatlah sesukamu karena sungguh engkau pasti menemui (balasan) dari perbuatanmu tersebut. ( HR. al-Baihaqi).

Gambar diambil dari: tirto.id




Posting Komentar

0 Komentar