Review Buku "Kemanusiaan Sebelum Keberagaman"

 Judul Buku                 : Kemanusiaan Sebelum Keberagaman

Nama Penulis              : Habib Ali al-Jufri

Penerjemah                 : Putra Nugroho

Tahun Terbit               : 2019

Penerbit                       : Noura Books

Jumlah Halaman         : 372

Harga Buku                 : Rp 98.000

Nomor ISBN               : 978-623-242-074-8

 

Habib Ali ibn Zainal Abidin Abdurrahman al-Jufri atau yang dikenal dengan Habib Ali al-Jufri lahir di Jeddah, Arab Saudi, pada Jumat 16 April 1971 M atau 20 Safar 1391 H. Habib Ali belajar ilmu-ilmu keislaman (Al-Quran, hadis, fiqih, tasawuf) sejak usia belia. Beliau berguru kepada banyak syaikh besar seperti Habib Muhammad bin Alawi al-Maliki, Habib Abu Bakr al-Masyhur al-Adni, Habib Umar bin Hafizh, dan syaikh besar lainnya. Beliau dikenal sebagai ahli tasawuf dan fiqih mazhab Syafi‘i. Saat ini beliau menjabat sebagai Direktur Utama Yayasan Thaba (sejak 2005). Beliau menjadi dosen tamu sejak tahun 1997 dan menjadi anggota Dewan Direksi sejak tahun 2003 di Dar al-Mustafa for Islamic Studies, Tarim, Yaman Selatan. Selain itu beliau juga anggota Dewan Pengawas Akademi Eropa untuk Budaya Islam dan Sains di Brussels, Belgia sejak 2003. Dan juga beliau adalah anggota aktif Yayasan Aal al-Bayt untuk Pemikiran Islam di Amman, Yordania, sejak 2007.

Judul Keberagaman diambil dari salah satu artikel yang menjadi pengikat yang menyatukan kandungan seluruh buku. Agama yang sesungguhnya (din) berasal dari Allah SWT dan karenanya terjaga ilahiah. Tetapi keberagaman (tadayyun) itu menyangkut bagaimana manusia memahami, menafsirkan, dan mempraktikkan agama misal seperti aliran madzhab fiqih, akidah dan seterusnya. Oleh karena itu keberagaman adalah bagian dari pengalaman manusia atau kemanusiaan sebagai wadah untuk menampung keberagaman. Artikel-artikel dalam buku ini disusun dan dikelompokkan berdasarkan temanya. Buku ini berisi delapan bagian yang saling relevan, yaitu:

Diawali dengan topik keputar kritik diri yang terdiri dari kritik penulis terhadap diri sendiri yang memuat tiga bahasan yaitu bab kunjungan ke dokter gigi; dosa tersembunyi; dan saya fanatik. Bagian kedua berisi tentang kritik untuk dakwah islami yang memuat empat belas pembahasan dimulai dari bab nasihat dari seorang yang mencintaimu; sebuah surat dari seseorang yang mencintaimu; tanggapan Hasan Hilmi atas sebuah surat dari seseorang yang mencintaimu; tanggapan atas kritik Hasan Hilmi; guru izinkan saya berbeda; perbedaan seorang muslim dan islamis; wahai para dai, inilah mimbar Nabi; carilah syariah yang lain; tangisan Asma; ya Allah, jangan jadikan kami cobaan bagi orang beriman;  fatwa kematian yang salah; semoga Allah tidak memaafkanmu; kami tidak menoleransi penghinaan terhadap Rasulullah; dan kami tidak akan tinggal diam.

Bagian ketiga, berisi mengenai seputar pemuda yang terdiri dari sembilan pembahasan dimulai dari bab masalah kaum muda; kaum muda dan kita; ketika yang tua tidak lebih baik dari yang muda; kontes bernyanyi dan bertarung di Sinai;  mereka membuatku menjadi ateis; apakah ini ateisme atau pencarian kebenaran; mencari akar penyebab kekerasan; dan bisikan ditelinga kaum muda. Bagian keempat, berisi tentang konsep-konsep yang terdiri dari tiga belas pembahasan dimulai dari bab kemanusiaan sebelum keberagamaan; gagasan lain tentang ‘Yang Lain’; Nelson Mandela peringatan untuk kita semua; persekutuan kebajikan; perang fijar; investasi sang nabi; bagaimana memahami kesalahan para sahabat; kritik atau fitnah; pekerjaan sosial berintegritas; orang-orang istimewa; kelahiran mulia; kamu telah menyingkirkan yang lain seputar ucapan selamat Natal; dan bertuturlah yang baik.

Bagian kelima, berisi seputar “Kafir” yang memuat tiga pembahasan dimulai dari bab siapakah orang kafir; takfir politis; melawan pemikiran takfiri. Bagian keenam, berisi tentang keseimbangan yang memuat empat belas pembahasan dimulai dari bab pria yang menzalimi nabi; sebuah visi yang jernih; mengevaluasi nilai-nilai kita; jujur; ancaman terhadap moral; ulama penguasa dan ulama rakyat; peringatan serius; penyalahgunaan syariah; permintaan maaf kepada Galileo; apakah Neil Amstrong orang pertama di Bulan; hentikan kebencian; janggut dan gamis; pembantaian di Suriah; dan Krisis kemanusiaan di Republik Afrika Tengah.

Bagian ketujuh, berisi seputar kaum elit intelektual yang memuat empat pembahasan yang dimulai dari bab sindrom sarang lebah; sepuluh pertanyaan untuk filsuf, pemikir dan kaum yang berintelektual; itulah ketabahan; dan revolusi intelektual. Dan yang terakhir yaitu bagian kedelapan, berisi tentang Nabi Muhammad SAW yang memuat tiga pembahasan yang dimulai dari bab panduan telah lahir; kelahiran belas kasih; dan hendaklah mereka bergembira. Dan yang terakhir yaitu tentang penulis yang berisi mengenai sang penulis yaitu Al Habib Ali al-Jufri.

Mendahulukan kemanusiaan sebelum keberagamaan merupakan salah satu konsep yang ideal untuk memupuk kerukunan antar umat beragama di era disrupsi ini. Namun hal tersebut sering di abaikan  oleh sebagian tokoh-tokoh agama. Bahkan banyak orang Islam yang belum bisa membedakan antara agama dan keberagamaan. Jika hal tersebut tidak segera diluruskan, maka dapat merusak keharmonisan hidup rukun antar umat beragama. Di sisi lain, hal tersebut dapat memicu terjadinya kasus intoleran, Islam radikal, kolot dan semacamnya.

Dalam setiap tema, memiliki banyak cerita-cerita hikmah yang mengindikasikan tentang pentingnya nilai kemanusiaan dan nilai-nilai moderatisme atau ketidakjelasan dalam bersikap. Hal tersebut juga menjadi ciri khas Habib Ali al-Jufri ketika berdakwah dengan  selalu mengemas ajaran agama dengan perilaku kemanusiaan,  sehingga dengan perilaku  tersebut setiap dakwah beliau mampu menembus relung-relung hati para pendengarnya. Kemanusiaan sebelum keberagamaan merupakan konsep yang ideal di masa kini untuk mendekati maupun mengajak seseorang kembali kepada nilai-nilai Islam secara keseluruhan.

Buku ini menjelaskan berbagai isu yang terjadi dalam diri seseorang dimana secara garis besar menjelaskan mengenai betapa rendah nya diri ini dibandingkan orang lain. Salah satu tulisan yang menjadi pengingatnya yaitu “apakah kamu berfikir bahwa, dihadapan-Nya kamu dapat berpura-pura suci seperti biasa dilakukan dihadapan manusia? Apakah kefasihan lidahmu akan membuat mu lolos dari cela amarah-Nya?”. Manusia sering membanggakan dirinya sampai lupa adanya tuhan, Allah SWT yang mengetahui segala gerak gerik manusia tanpa ada hal yang dapat disembunyikan. Terkadang, ketika seseorang merasa yang paling benar, dengan segala ilmu dan argumennya dapat membuat ia terjerumus kedalam hal yang bersifat sombong karena dapat membanggakan diri atau menyalahkan sesuatu yg dilakukan orang lain bahkan kesalahan yang fatal. Sifat itu ialah sifat yang hanya boleh dimiliki Allah SWT, dan hanya Allah Ta’ala yang berhak menilai sesuatu, bukan manusia meskipun ia berpengetahuan luas dan juga ahli agama.

Banyak isu-isu menarik yang dibahas untuk menambah ketawadu’an seseorang. Mengingatkan diri bahwa manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Salah satu contoh nya adalah saat kita menyerukan kepada orang lain untuk berbuat kebaikan namun tidak kita perbuat hal yang diserukan itu. Hal ini mengingatkan saya pada zaman sekarang dimana banyak oknum menyerukan kebaikan hingga membuat keributan dan perpecahan. Namun hal tersebut belum tentu ia praktekkan dalam diri masing-masing. Hal ini menjadi pengingat diri bahwa ketika kita menyerukan hal-hal kebaikan, yang harus dilakukan pertama ialah mempraktekkannya. Seperti yang tertulis dalam ayat Al-Qur’an yaitu “wahai orang-orang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Hanya Allah Ta’ala yang memiliki pengetahuan akan hal-hal yang gaib (Al-Alim).

Habib Ali juga menjelaskan tentang peri kemanusiaan sebelum religiusitas. Peri kemanusiaan adalah sifat sifat alami dan natural dari dalam diri manusia yang Allah ciptakan sebagai fitrahnya sehingga dapat membedakan hal baik dan buruk. Ia menyebutkan bahwa peri kemanusiaan harus terlebih dahulu dilakukan sebelum mengamalkan ajaran-ajaran tauhid seperti melakukan silaturahim atau menjadikan masyarakat yang rukun dan damai, mencegah pertengkaran dan kekerasan atau menjaga hak hidup orang lain dan menjaga jalan dan memberikan rasa aman atau menciptakan rasa aman pada khalayak umum. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika memulai dakwahnya.

Dalam kehidupan ini, seseorang sering menyempitkan sesuatu perkara yang luas. Padahal setiap perkara dapat dilewati dengan mudah dan terselesaikan. Demi usaha untuk mencapai perkara yang baik, dapat membuat seseorang tidak bisa menerima perbedaan. Padahal sudah jelas pemahamannya terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti perbedaan empat mazhab dimana setiap mazhab memiliki pandangan sendiri-sendiri yang merupakan wujud perbedaan mereka. Hal itu lantas tidak menjadikan timbulnya permusuhan, melainkan terjadinya keharmonisan dan dapat saling memuji atas perbedaan yang ada.




Posting Komentar

0 Komentar